Happy reading...😍😍
Ternyata benar angin malam itu rasanya dingin sekali. Hari ini aku merasakannya. Duduk di teras depan rumah hanya beralaskan lantai keramik dan ditemani semilir angin malam telah sukses membuatku merinding kedinginan dan sesekali badanku bergidik secara tiba-tiba. Berebut oksigen dengan tanaman-tanaman hias di pekarangan rumah membuatku semakin mengantuk lantas menguap berkali-kali. Rupanya kafein di dalam segelas ice cappuccino yang aku habiskan sekitar dua jam yang lalu saat di depan layar lebar tidak bisa diandalkan untuk menahan kantuk. Berbeda dengan kafein, sepertinya zat diuretik yang ada di dalam cappuccino sedikit bekerja di dalam tubuh. Zat diuretik tersebut sukses menstimulus saraf pada kantung kemihku sehingga aku ingin segera mengeluarkan cairan yang sejak tadi telah tertampung.
Aku sudah menelepon ke rumah beberapa kali, namun tetap saja tidak ada jawaban. Memencet bel rumahpun sudah aku lakukan berkali-kali, tapi keadaannya masih sama, pintu rumah tidak kunjung terbuka. Untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif, aku membuka laptopku lalu mengerjakan tugas membuat beberapa resume mata kuliah studium generale. Karena aku berusaha fokus mengerjakan tugas, rasa kantukku hilang, ditambah lagi dengan menyantap satu porsi sate plus lontong yang aku beli dari bapak penjual sate gerobak langganan yang mangkal di depan rumah.
Sekarang sudah hampir pukul 23.00, bapak penjual sate izin pamitan untuk pulang. Dagangannya sudah habis terjual dan memang ini sudah terlalu malam untuk berkeliaran menjual sate. Sebelum pulang, beliau bilang kepadaku untuk terus menelepon ke rumah dan terus memencet bel supaya orang yang ada di rumah terbangun lalu membukakan pintu untukku. Sepertinya beliau kasihan melihatku tidak bisa masuk ke rumahku sendiri di tengah malam seperti ini dengan kondisi kedinginan tanpa jaket. Tapi aku juga merasa kasihan pada aki (panggilan kakek dalam bahasa sunda) dan eni (panggilan nenek dalam bahasa sunda). Aku tidak enak bila terus menelepon dan mengebel ke rumah. Pastinya aki dan eni sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing. Aku jadi merasa tidak enak, takut mengganggu tidur mereka. Ah yasudahlah mungkin sudah takdirnya aku malam ini harus tidur di teras rumah ditemani semilir angin malam dan kerlip bintang. Huks. Aku meneruskan lagi mengetik.
Aku meneruskan lagi mengetik resume studium generale di depan layar laptop. Sebelumnya aku sudah menurunkan brightness layar sampai level paling minimum supaya hemat baterai. Aku terus mengetik hingga di bagian bawah laptop muncul tulisan bahwa baterai laptop tinggal 7% lagi. Ah, sebeel. Kalau tidak ada laptop, siapa yang akan menemani aku begadang di tengah malam. Aku mematikan laptop lalu memeluknya, lumayan jadi terasa lebih hangat.
Kantuk pun datang lagi tanpa diundang, padahal sebisa mungkin aku tidak boleh tidur. Yang pertama, aku takut ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi misalnya ada pencuri yang datang lalu mengambil laptopku atau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Yang kedua, aku harus tetap bangun supaya bisa menelepon ke rumah sekitar jam 2 malam ketika aki terbangun untuk shalat malam.
Untuk mengusir kantuk, aku memilih untuk membaca buku kuliah, judulnya ‘human ecology’, sekalian belajar untuk UAS. Tapi rupanya pilihanku salah. Alih-alih tidak mengantuk, rasa kantukku semakin menjadi-jadi. Mencoba membaca textbook untuk menghilangkan kantuk adalah ide yang telah teruji peluang untuk gagalnya lebih besar.
Aku menutup buku ‘human ecology’, lalu mengambil handphone. Bukan untuk menelepon rumah lagi, tapi aku membuka new message lalu mengetikkan sepatah banyak patah kata tentang hari ini, tentang kondisi saat ini, dan tentang apapun. Menulis lebih berhasil membuatku melek dibandingkan membaca textbook kuliah.
Sebenarnya aku membawa kunci pintu depan rumah lengkap dengan kunci gembok pagar depan. Tapi saat aku sedang membuka kunci, aku baru sadar kalau selain mengunci pintu, biasanya aki menyelotkan besi pada pintu dari dalam rumah. Hal itu membuat aku tidak bisa masuk ke dalam rumah bila tidak ada orang yang membukakan selot dari dalam. Berkali-kali aku menelepon dan memencet bel, tetap saja tidak ada jawaban. Ah kalau tau akan begini lebih baik aku menginap saja di rumah teh syifa atau kostan siapapun. Tapi sayangnya teh syifa yang mengantarkan aku sampai depan rumah, sudah pergi lagi dengan motornya beberapa menit yang lalu. Akan merepotkan sekali kalau aku meminta dia balik lagi lalu aku ikut menginap di rumahnya. Ah yasudahlah mungkin sudah takdirnya malam ini aku ditemani rembulan. Huks. Aku berusaha untuk tidak mengeluh. Sampai kapanpun mengeluh tidak akan pernah menjadi solusi untuk masalah apapun, yang ada malahan memperparah.
Jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul 00.00 lebih, artinya sekarang sudah berganti hari baru menurut penanggalan masehi. Kalau sedang di dalam rumah, sepertinya aku akan sedang tertidur pulas. Saat ini aku tidak mengantuk, tapi tiba-tiba aku merasakan cairan di dalam kantung kemihku seakan-akan meronta ingin keluar. Aku bingung namun tiba-tiba muncul sebuah ide. Aku membuka pintu gerbang rumah, lalu aku keluar dan tak lupa menggembok gerbang lagi. Setelah itu aku berjalan ke masjid yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah, namun tidak bisa dibilang dekat, sedang-sedang saja jaraknya dengan rumah.
Semoga saja ada sedikit ada harapan. Pastinya di area masjid ada kamar mandi, aku juga bisa shalat isya disana. Di sana juga ada colokan listrik, jadi aku bisa mencharge laptop sehingga bisa begadang sambil melakukan hal yang produktif. Selain itu udara di dalam ruangan masjid pastinya lebih bersahabat daripada angin malam yang semakin lama semakin membuat aku merasa merinding.
Aku berjalan dengan cepat menuju masjid terdekat. Untungnya penerangan di sekitar rumahku terbilang sangat baik. Hal itu membuat aku tidak berfikir yang aneh-aneh, misalnya membayangkan ada hantu atau apapun itu. Kalaupun terbersit pikiran seperti itu, aku langsung menghapusnya sampai bersih. Aku memang penakut tapi untuk kondisi kali ini aku tidak mau membuat diriku takut karena bayangan aneh yang aku ciptakan sendiri di dalam imajinasiku. Sebenarnya dalam kondisi seperti ini, aku tidak takut dengan hantu atau semacamnya. Aku lebih takut kalau bertemu orang jahat yang tiba-tiba mencegatku, menodongkan senjata ke arahku lalu bertanya pertanyaan retoris ‘harta atau nyawa?’, atau ada orang jahat yang tiba-tiba menculikku lalu meminta uang tebusan seperti yang ada di film petualangan sherina. Haha.
Alhamdulillah ya ketakutan yang aku bayangkan itu tidak nyata, aku berhasil sampai di depan masjid dengan selamat. Namun yang membuatku kecewa adalah ternyata pagar masjidnya digembok. A-ku ke-ce-wa. Tapi yasudahlah. Aku kembali ke rumah sambil berjalan dengan speed tinggi lagi. Sempat terfikir untuk jalan-jalan di sekitar rumah menikmati malam, tapi aku mengurungkan niat itu. Angin malam semakin lama semakin dingin, aku tidak ingin sakit. Selain itu, aku pun takut bertemu orang jahat. Aku kembali ke rumah, mengunci gembok pagar, lalu duduk di lantai teras dengan posisi mendekap lutut. Menurutku posisi duduk seperti ini lebih hangat daripada duduk biasa di atas kursi teras. Aku kembali mengetikkan sepatah banyak patah kata tentang hari ini di handphone merahku tercinta, sambil berdoa semoga aki cepat bangun.
Rupanya Allah menunda untuk mengabulkan doaku hingga sekitar pukul 01.30 malam. Saat itu aku mendengar suara gerasak-gerusuk dari dalam rumah. Itu mengindikasikan bahwa di dalam rumah mulai ada kehidupan, aki sudah bangun. Dengan cepat aku menelepon ke rumah lalu meminta aki untuk membukakan pintu. Beberapa menit setelah itu pintu pun terbuka.
See you....😘😘
Tidak ada komentar:
Posting Komentar