Rabu, 28 Februari 2018

Seram

Hari ini ada yg membuat aku sangat takut. Ada penampakan yang mengerikan yang aku liat dipersimpangan rumahku. Takut itu lah yang aku rasa kan greget juga sih.
Ada sebuah legenda di Jepang dan China yang menceritakan tentang seorang gadis bernama Kuchisake-Onna. Beberapa orang mengatakan bahwa ia adalah istri seorang samurai. Suatu hari, ia berselingkuh dengan pria yang lebih muda dan lebih tampan. Ketika suaminya pulang, ia menemukan pengkhianatan istrinya.
Karena murka, ia mengambil pedangnya dan merobek mulut istrinya dari telinga kanan hingga ke telinga kiri. Ada yang mengatakan bahwa wanita itu dikutuk untuk tidak pernah mati, dan hingga sekarang masih mengembara di dunia.
Legenda Si Manis Jembatan Ancol
Siapa tak kenal Si Manis penunggu Jembatan Ancol. Urban legend yang berasal dari Jakarta ini telah tersohor hingga ke luar Pulau Jawa. Bahkan saking terkenalnya, kisah hantu ini sempat diangkat ke layar kaca dan menjadi hype di tahun 90-an.
Ada beragam versi yang menceritakan tentang terbunuhnya Si Manis di Jembatan Ancol yang dulunya dikenal sebagai jembatan goyang tersebut. Salah satu versi mengisahkan bahwa Si Manis meninggal karena diperkosa lalu mayatnya dibuang ke sungai. Lain cerita menggambarkan bahwa Si Manis yang kabarnya bernama Siti Ariah itu dibunuh oleh centeng kiriman Oey Tambahsia, seorang tokoh yang terkenal saat itu.
Hingga kini, cerita tentang penampakan gadis cantik di jembatan tersebut masih santer terdengar.

Selasa, 27 Februari 2018

Lelah

Lelah adalah kata yang sering dipakai sesorang ketika ia sedang mengeluh. Mengeluh atas dasar kelakuannya sendiri. Seperti hari ini aku mersa sangat lelah setelah pulang sekolah aku langsung pulang sesampai nya dirumah aku langsung makan dan setelah itu langsung kembali lagi kesekolah untuk melangsung kan les terobosan. Seperti yang kita ketahui kelas IX itu akan disubukkan dengan belajar belajar dan belajar. Bahkan melangsungkan ujian berulang kali. Oleh karena itu otak aku ini rasa nya ingin meledak. Belum lagi tugas yang menumpuk. Oh yatuhan seandai nya aku ini mempunyai kekuatan akan kulakukan semuanya dengan itu. Kalau begini cerita nya bisa-bisa aku mati secara perlahan. Belum lagi les diluar jam sekolah. Ya aku tahu begini lah usaha untuk mendapat hasil yang maksimal. Tapi mengapa sesuah itu? Aku lelah tapi bagaimana pun ini harus aku jalani. Mau tak mau enak tak enak harus dilakukan. Jika kita mendapatkan hasil yang maksimal kita sendiri yang akan senang. Memang sih susah tapi tak apa lah. Lelah kata itu lah yang sekarang aku alami. Lelah melakuakan semua nya. Rasa nya aku ingin tiada saat ini juga. Tapi jangan lah aku masih menyayangi keluarga ku. Aku tak akan melakukan itu hanya karena lelah akan masalah dunia ini. Karna aku juga masih menyayangi nyawa ku sendiri.
Jika aku lelah maka aku akan tidur. Tidur untuk menetral kan tenaga ku. Kalau tenaga sudah terkumpul maka apa yang ingin kita lakukan akan terasa lebih cepat. Meskipun aku sering mengalami lelah tapi aku harus bisa mengatasinya. Karena tuhan tak pernah memberi kan masalah diluar kemampuan kita. Ok inti nya hari ini aku LELAH.... 😡
See you...

Minggu, 25 Februari 2018

Kisah siraja Usil

Happy reading.....😍😍

Namanya Gagah pratama. seperti namanya, badanya terlihat gagah, tinggi dan berisi. Namun teman temannya lebih suka menjuluki dengan sebutan Gagah si raja usil. Tak heran bila teman teman gagah memberikan gelar seperti itu, tak lain karena sikapnya yang sering membuat teman temannya merasa tak nyaman bila berada di dekatnya.
Hampir setiap hari ada saja yang menjadi korban keusilannya. kemarin Luna yang dibuat marah karena tanpa disadarinya, luna duduk di bangku yang sebelumnya telah ditaruh sisa permen karet oleh gagah. Tak ayal sisa permen karet pun menempel di rok panjangnya.
Hari ini giliran akbar yang dibuat jengkel. karena gagah diam diam menempelkan secarik kertas yang bertuliskan “Aku badut” di belakang punggungnya. Awalnya akbar merasa heran karena setiap anak memandangnya kemudian menertawakannya. Untunglah anisa berbaik hati mau memberitahu penyebabnya.
Entah apalagi keusilan yang akan dilakukan gagah. entah siapa lagi yang akan jadi korbannya, semoga Alloh memberikan kesadaran kepadanya. Demikian do’a teman teman gagah.
Hari ini ibu guru tengah menerangkan pelajaran, semua murid tampak bersemangat mengikutinya. Tiba tiba seekor cicak terjatuh dari langit langit kelas tepat di depan gagah. secara spontan gagah melompat ketakutan ke atas bangkunya seraya bertiak kencang “Tolong, ada cicak…”
Teman teman yang menyaksikan kejadian tersebut serentak tertawa terbahak bahak, “Ha ha ha si Raja usil ternyata takut dengan cicak…”.
Muka gagah merah padam menahan rasa malu, baru sekarang gagah menyadari begitu tidak menyenangkan menjadi bahan tertawaan orang.
Usai kejadian itu sikap gagah mulai berubah. Ia meminta maaf kepada semua teman temannya dan berjanji akan bersikap baik kepada semua orang. “Boleh bercanda tapi jangan kelewatan”, demikian pesan ibu guru…

See you....😘😘

Rabu, 21 Februari 2018

Sampah dan Mutiara

Happy reading...😍😍

Sampah dan mutiara, apakah perbedaan dari keduanya? Sungguh berbedakah? Bagaimana bila ada mutiara yang tanpa sengaja terjatuh pada tumpukan sampah apakah manusia akan melihatnya? Pasti mutiaranya terlihat, sungguh munafik manusia itu. Apabila mutiara adalah lambang bagi orang baik dan sampah adalah lambang orang yang bertingkah laku buruk, bagaimana bila ada seorang manusia bertingkah laku buruk untuk mendapat perhatian meskipun sebenarnya ia adalah orang yang baik, akankah manusia merasa kasihan? Lihat saja apa yang akan terjadi.
Namaku adalah Noel, anak seorang politisi terkenal dan presenter terkenal, tinggal di real estate, pandai dalam semua mata pelajaran, bersekolah di tempat terelite, wajah tampan rupawan tidak ada yang kurang satupun bukan? Tapi kalian salah, aku memiliki semuanya kecuali kasih sayang orangtuaku. Ayahku sibuk dengan kegiatan politiknya di luar kota sedangkan ibuku lebih memilih meninggalkan rumah semenjak aku memakinya karena memergokinya berselingkuh dengan director stasiun televisi tempat ia bekerja.
Aku hancur, tangisanku tiap malam hanya didengar oleh Tuhan dan pembantu di rumahku. Ayahku semakin bekerja dengan keras, mengendalikan sebuah perusahaan furniture dan menjalankan tugas negara. Jujur aku lebih menyukai ayahku menjadi seorang pengusaha saja, kehidupan kami sangat indah dulu, kebahagiaan sebagai keluarga kudapatkan sepanjang waktu. Aku lelah dengan semua ini, ayahku makin jarang pulang dan ke rumah hanya untuk mengambil dokumen dan pergi lagi.
pernah kudengar lagi pertanyaan yang menunjukkan kalau ayahku merindukanku atau ajakan untuk pergi berlibur berdua, tentu saja berdua ibuku sudah pergi dengan lelaki selingkuhanya dan berhenti dari dunia pertelevisian. Aku tahu ayah terluka tapi aku juga terluka, aku mulai melakukan apapun sesukaku membolos, merok*k dan pergi ke bar walaupun aku hanya diam di sana tanpa menyentuh minuman setan itu.
Pagi ini fitnah yang datang padaku begitu besar, bully yang dilakukan teman-temanku makin menjadi. Jangan heran dari dulu aku adalah bahan bulian mereka karena hidupku yang mereka anggap sempurna, ketahuilah mereka hanya iri. “Hei teman-teman! Lihatlah Si Anak Pejabat sekarang menjadi sampah masyarakat yang sering mabuk di bar lo.” Aku membencinya, semua itu kulakukan hanya untuk menarik perhatian orangtuaku hanya itu, aku muak sungguh apa lagi saat mereka melemparkan tatapan jijik padaku bahkan ada yang menyiramku dengan air meneral.
Semua orang tertawa karena penampilanku yang basah kuyup dan terlihat seperti orang yang putus asa. Tanganku mengepal eret, sungguh aku ingin memberi bogem mentah pada muka Rian. Sampai akhirnya aku mendengar sesuatu yang membuat amarahku tersulut, “lihatlah anak pejanbat korup dan ibunya yang seorang perusak rumah tangga orang lain ini.” Ucapnya sambil memegang pundakku, secara refleks aku menghajarnya. “Maki saja aku sampai kau puas, tapi jangan pernah menyebutkan suatu yang buruk tenteng orangtuaku atau kau akan tahu akibatnya!” aku berteriak dengan lantang, terus kulepaskan kejengkelanku selama ini dengan memukulinya. Aku merasa puas, walau setelahnya aku dibawa ke kantor BK oleh beberapa guru dengan wajah yang sama babak belurnya dengan temanku Rian.
“Noel apa yang kamu lakukan, kemarin kamu membolos dan merok*k di area sekolah sekarang berulah lagi!” bentak Bu Budi, “Maaf bu, saya tidak dapat menahanya lagi dia menjelekkan orangtua saya,” sahutku pelan dengan kepala tertunduk. “Tapi ini kenyataan bu!” Rian membela diri, “Bahkan anak sampah ini sekarang pergi minum ke bar bu.” Rian bermaksud memojokkanku, “Diam kamu Rian! Kalian berdua saya skors selama seminggu” Bu Budi menambahkan “Noel, aku akan melaporkan semuanya kepada ayahmu.” Ancam Bu Budi, “Silahkan saja bu, kalau ayah saya mau pulang untuk sekedar menamparpun itu sebuah anugrah.” Noel tersenyum polos, sebenarnya Bu Budi merasa kasihan tapi sebagai seorang guru BK ia harus profesional.
Sore harinya saat aku sampai di rumah, ayah sudah ada di ruang tamu dan menyesap kopi pahit kesukaanya. Mataku berbinar aku bahagia, akhirnya ayah pulang. Aku berusaha menyapa, “Aya-” belum selesai kalimat yang keluar dari mulutku “Plak!” suara tamparan itu menggema, para pelayan terkaget tak percaya. Aku meringis bukan pelukan malah tamparan selamat datang yang aku dapat, “Apa yang kau lakukan hah! Bolos, merok*k, dan sekarang kau pergi ke bar hah! Mau jadi anak macam apa kau, ingin membunuh ayahmu Noel?”
“Tapi yah ak-” aku mencoba untuk menjelaskan,
“Sudahlah pergi ke kamarmu dan renungkan apa yang terjadi hari ini” perintah ayahku. “Baik yah” jawabku, pipiku berdenyut sakit, hatiku serasa bergemuruh. Bahkan ayahku tak mau mendengarkan penjelasanku, hatiku merasa sakit seperti ditikam pisau.
Aku tak tahan lagi, aku akan kabur dari rumah. Mati ataupun hidup orangtuaku pasti tidak peduli, pada tengah malam saat semua orang tertidur aku mengendap-endap keluar lewat gerbang belakang rumah.
Aku kenyang dengan semua masalah ini, ibuku selingkuh, ayahku tidak mempercayaiku lagi, teman pun aku tak punya, skorsing selama satu minggu lengkap sudah. Tinggal sedikit lagi sampai aku bisa kabur dengan cara memanjat gerbang belakang, tiba-tiba terdengar suara tembakan pistol dan teriakan para bodyguard ayah. Deg, jantungku seperti berhenti berdetak. Seketika itu juga aku berlari memasuki rumah lewat pintu belakang, aku takut hal yang buruk akan menimpa ayahku. Aku mohon Tuhan lindungi ayahku, setelah berlari dengan sekuat tenaga aku sampai di depan kamar ayah yang pintunya terbuka. Tanganku gemetar, aku berusaha melihat apa yang terjadi beberapa bodyguard ayah tergeletak bersimbah darah.
Aku menutup mulutku supaya teriakanku tertahan dan tidak diketahui orang yang tengah menodongkan pistol pada ayahku yang tengah mengangkat tangan. Orang di depan ayahku ini samar-samar aku mingingatnya, saingan bisnis dan calon anggota partai yang tidak diterima karena kalah bersaing dengan ayah, Pak Andi. Aku akan mencoba untuk menolong ayah, tanpa pikir panjang aku mencoba merebut pistol yang ditodongkan pada ayah.
“Bocah bodoh apa yang kau lakukan!” bentak Pak Andi padaku, “Beraninya kau, masuk ke rumah orang tanpa izin.” Balasku, “Noel!” ayahku kaget bukan kepalang. Ayahku mencoba untuk membantuku tapi terlambat, suara tembakan itu terdengar lagi. Tapi aku merasa sangat sakit pada daerah perutku ah, aku tertembak, darah segar terus mengalir dari perutku. Aku masih sempat melihat ayah memukul Pak Andi dengan tongkat baseball dan orang itu pingsan seketika, ayahku menghampiriku yang tergeletak lemas di lantai. Ayahku menangis memanggil-manggil namaku sungguh aku bahagia, aku masih sempat mendengar suara sirine mobil polisi dan suara ibuku. Ibuku pulang, aku bahagia Ya Tuhan mati sekarang pun aku tak apa. Semuanya mulai gelap, orangtuaku hanya terlihat seperti bayangan yang blur.
Ah, mungkin usiaku tak panjang hidupku juga penuh dengan cobaan tapi semoga ayah dan ibuku dapat hidup bahagia Amin. Aku seperti tengah berkelana melewati tempat yang aneh banyak kenagan masa kecilku sampai dewasa yang diputar bagaikan sebuah film di bioskop, ayah, ibu, para pembantu di rumah, dan teman yang pernah aku miliki. Tiba-tiba aku mendengar suara “kembalilah nak”, seperti suara ibuku. “Noel, nak ayah di sini ayah mohon bangun nak.” Suara ayah, lalu tiba-tiba cahaya terang itu datang, aku mengerjapkan mata badanku terasa lemas apa yang terjadi? Saat mataku terbuka aku melihat ayah, ibu, beberapa guru dan temanku. Ayah dan ibu memeluku, aku sangat bahagia kami menagis bersama, sungguh sesak yang selama ini kurasakan menghilang bagai kabut di pagi hari.
“Ayah minta maaf nak, apa yang ayah lakukan selama ini salah. Ayah sudah mengundurkan diri dari anggota dewan, ayah akan lebih sering meluangkan waktu denganmu dan ibu.” Ucap ayahku dengan sedikit terisak, “Ibu juga minta maaf nak, akan apa yang sudah ibu perbuat.” Ibuku terisak dengan tetap mendekap erat diriku. “Maafkan Ibu Budi Noel, sudah menyalahkanmu dan tidak menyelidiki masalah apa yang terjadi.” Bu guru BK yang galak itu meminta maaf padaku, “Aku juga minta maaf Noel telah menyebutmu sebagai sampah.” Ucap Rian, aku hanya menganggukan kepalaku pelan karena tenggorokanku terasa kering untuk berkata-kata.
Kejadian yang hampir merenggut nyawaku ini malah menjadi awal yang indah bagi keluargaku lagi, ayah dan ibuku kembali seperti sedia kala, guru-guru di sekolah menjadi lebih hati-hati dan tidak dengan seenaknya menghukum tanpa mengetahui akar dari masalah yang dihadapi oleh siswanya, teman-teman yang dulu meninggalkanku telah kembali seperti sedia kala Tuhan terima kasih atas ujian dan kebahagiaan yang engkau berikan
Masyarakat pada umumnya di negara kita sanatlah rasis dan menggap kenakalan seorang anak akan menjadikanya sampah di masyarakat, walaupun pada dasarnya mereka hanyalah anak-anak yang merasa kesepian dan merindukan kasih sayang dari orangtua dan lingkunganya. Tingkah buruk dari seorang anak dapat diperbaiki, jangan memberikan penilaian buruk dan judge bahwa mereka adalah calon sampah. Karena sebenarnya mereka adalah mutiara yang kusam hanya sedikit sentuhan dan ia akan menampakkan keindahanya.
Sangat penting untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak saja tapi selami lebih dalam lagi, dan menjaga tuturan kita kepada orang lain. Jangan sampai apa yang kita katakan malah menjadi pisau belati yang menyakiti orang lain dan semoga di negeri ini tidak terjadi aksi bulliying sebagai perusak nomor satu mentalitas bangsa.

See you....😘😘

Selasa, 20 Februari 2018

Pulang

Happy reading....😍😍

Untuk sebagian besar orang, waktu pulang adalah waktu yang selalu dinantikan. Tapi tidak denganku. Sudah berbulan-bulan yang lalu, aku benci waktu pulang. Waktu pulang membuatku gelisah. Kebenaran tentang rumor yang selalu dibicarakan orang tiap pagi, istirahat dan pastinya waktu pulang sangat mengangguku.
Saat ini, masih pukul 13.03. Berkali-kali aku menyingsingkan lengan seragamku lalu kepalaku menunduk, mengecek jam tangan yang melilit di pergelangan tangan. Tengadah melihat jam dinding kelas. Sama. Dalam hati aku bernafas lega. Masih tersisa waktu lima puluh tujuh menit lagi menuju waktu pulang.
Karena bosan, aku merebahkan kepalaku di atas lipatan tangan. Kepalaku mulai memutar kilasan tentang seseorang yang kukagumi. Dia~ Septian.
Waktu itu awal pertemuan kami. Sederhana saja. Saat acara FORTASI, dia adalah ketua kelompok kami. Dari sana kami semakin dekat. Dia adalah sahabat yang terbaik sekaligus paling sering menyakitiku.
Mungkin, memang di sini aku yang salah. Terlalu berharap pada seseorang yang terlalu jauh kuraih.
Aku pernah memposting quotes di akun sosmedku yang berisi tentang curahan isi hatiku. “malam kini terang oleh bulan. Tapi di sana tiada bintang yang menghiasinya. Karena bintang-bintang itu sedang kugenggam untuk kemudian kusimpan baik-baik. Agar, saat kau memandang malam, kau akan menghampiriku lalu meminta bintang yang kusimpan jika kau menginginkannya.” tiba-tiba setelah selang beberapa detik kemudian aku mempostingnya, sebuah dering notifikasi muncul membuatku gugup.
Septian mengomentari satatusku!
Tapi saat kubaca apa komentarnya, satu tetes air mata lolos membasahi pipiku. Yang dia pedulikan bukan perasaan sahabatnya. Tapi, “ternyata kamu jago bikin kata-kata. Buatin dong, buat gombalin Si Doi,” begitu komentarnya. Kenapa aku menangis? Karena kukira dia mulai peka dengan perasaanku, nyatanya tidak. Dia malah sedang jatuh cinta dengan Seli. Teman sebangkuku.
Kenapa aku tahu? Karena Septian sering curhat mengenai Seli juga selalu menghampiriku untuk sekedar bisa lebih dekat dengan Seli.
Pernah waktu itu aku bergurau saat Septian sedang menggombali Seli. Gurauan yang menjadi boomerang bagi diriku sendiri. “Ngapain nunggu lama-lama sih Yan, tinggal tembak aja langsung jadi. Pulang sekolah waktu yang tepat. Itu saran gue!” seketika Septian terbahak lalu tangannya mengibas-ngibas di udara. “Bener Na. Saran yang bagus. Gue setuju banget. Ooops!” Sedangkan Seli sedang terbelalak dengan pipi yang bersemu merah. Awalnya responku sama terbahak dengan Septian. Tapi saat kulihat rona merah di pipi Seli tawaku berubah menjadi senyum kecut.
Ternyata~ Seli juga menyukai Septian.
Dan semenjak itu Septian sering curhat bagaiman cara menembak yang bagus agar Seli menerimanya. Aku hanya menjawab acuh, “cari aja di Si Mbah Google Yan,”
Setelah enam bulan lamanya Septian tidak kunjung menembak Seli membuatku cemas sendiri. Dan waktu pulang menjadi waktu paling membuatku gelisah. Karena pertanyaan, “kalo enggak kemarin, berarti hari ini. Juga kalo enggak hari ini berarti besok?” selalu menghantuiku.
“Na-na, ayo pulang!” teriak seseorang membuat posisi badanku tegap.
“Siap bu!” jawabku lantang. Hening.
Kepalaku berputar melihat sekeliling. Ternyata sudah waktunya pulang.
“Na-na, ayo cepetan! Lama amat sih” teriak Seli lagi.
“Iya diem lo cerewet!” setelah membereskan isi tasku aku menghampiri Seli.
“Na-na. Hari ini gue seneeeng banget! Lo tau gak–”
“Kagak!” potongku cepat.
Seli kemudian menjentikkan jarinya di depan mukaku.
“Yaiyalah ogeb! Lo dari tadi molooor aja! Orang pada teriakin lo Anaaaa! Anaaaa! Sini! Bangun! dari lapang sama koridor rame-rame lo gak denger! Jadi acaranya udahan lah. Terus gue susul lo ke sini aja, takut lo kenapa-kenapa.” tuturnya membuat jantungku cemas.
“Emang gue molor yah?” gumamku.
Seli tersenyum. Lalu dia tiba-tiba menghentikan langkahnya membuatku juga ikut menghentikan langkahku. “Kenapa” tanyaku.
“Sebelum gue cerita, gue boleh tanya?” aku mengangguk. Sambil menunggu dengan detak jantungku yang sudah liar dari tadi.
“Jujur sih, sebenernya siapa yang lo cintai sekarang ini.” setelah pertanyaan itu lolos dari mulutnya, dalam hati tak henti-hentinya aku merapalkan kalimat ‘laa ilaaha illallah’ berharap Allah memberiku kekuatan agar aku tidak menangis saat ini juga.
Tanpa bisa kucegah, mataku menjadi berkaca-kaca. Kuusap wajahku secepat mungkin lalu melangkah kembali. “E-enggak ada Sel,” sial! Tremor melanda.
“Oh ya udah, tadi kan gue lagi…” setelah itu aku tidak mendengarkannya. Aku sibuk menenangkan perasaanku yang seolah tercabik-cabik dan layaknya luka menganga yang diberi garam. Perih.
Aku suka kejujuran, sungguh. Tapi aku tidak bisa jujur saat ini pada temanku sendiri adalah pacarnya.
Sambil melangkah menuju parkiran, aku coba introspeksi diri. Sebenarnya apa yang selama ini kubenci. Pulang? Nyatanya aku memang membenci pulang. Lebih tepatnya pulang bersama sahabatku, Seli.
Silahkan bilang aku jahat, munafik, atau apapun. Karena aku sendiri memang mengakuinya.
“Tunggu lo pulang sama siapa?” tanyaku saat seseorang berperawakan seperti Septian melambaikan tangannya pada kami.
“Sama pacar, Septian!” senyum kecut dariku adalah responnya.
Lantas aku segera mengantarkan Seli menuju Septian.
“Lo pulang bareng kita aja. Reptil, Na. Yuk!” ajak Seli antusias.
“Iya Na. Keburu sore.” tambah Septian.
Kepalaku menggeleng. Lalu memberi mereka senyuman manis, “enggak ah. Kalian duluan aja.” kataku susah payah.
Kemudian mereka pergi meninggalkan Aku yang berjongkok menutup muka dengan kedua tangan, “Ya Allah … AllahuAkbar…” jeritku disela isak tangis.
Mungkin, selama ini aku salah telah membenci waktu pulang. Harusnya aku membenci diriku sendiri yang telah mengabaikan-Nya. Maafkan aku ya Tuhan, telah berharap selain pada-Mu. Mengharapkan cinta Septian bukan cinta-Mu.
Padahal segala cinta hanyanlah kepada-Mu.
Dan aku belajar dari waktu pulang ini, bahwa jika hatimu tiada tenang, mencemaskan sesuatu yang tidak seharusnya, mengharapkan sesuatu padahal pada kenyataannya harapan itu malah menyakitiku, ingatlah Tuhan.
“Sebenarnya saat kamu berharap pada seseorang, Tuhan itu cemburu. PadaNyalah kamu seharusnya mengharapkan segala sesuatu,” kutipan kata-kata bijak yang pernah aku dengar namun aku abaikan maknanya.

See you...😘😘

Senin, 19 Februari 2018

I'm Not Alone

Happy reading....😍😍

Hari ini adalah kelima kalinya saya menghadiri pesta pernikahan teman kantor saya. Setiap pulang dari acara tersebut, keesokan harinya di kantor selalu mendapat pertanyaan yang sama. “Kapan akan menyusul?” tanya seseorang di kantor.
Seperti biasa, jawabannya adalah senyuman manis yang dipaksakan. Tidak jarang saya mendapat pertanyaan yang to the point, tanpa basa-basi. Pernah suatu kali saya ditanya oleh seorang manajer di kantor tempat saya bekerja. “Apa kamu sudah punya pacar?” tanya manajer itu.
“Saat ini tidak ada, Pak!” jawabku sambil tersenyum.
“Wah, sayang sekali! Cantik-cantik tak punya pacar,” katanya sambil geleng-geleng kepala.
Ujung-ujungnya adalah senyum yang dipaksakan juga.
Sebenarnya, saya juga tak masalah disebut tak punya pacar. Walau dalam hati merasa sedikit tersinggung, saya senang karena manajer itu mengatakan ‘cantik-cantik tak punya pacar’. Berarti saya masih punya modal dong! Tanda seru keras…
Saya pikir setelah pulang kantor, tiba di kos-kosan, ngantuk, capek plus laper, saya bisa hidup lebih tenang dan nyaman alias istirahat. Saya juga tak perlu menghadapi berbagai pertanyaan yang sedikit banyak mempengaruhi jiwa dan raga saya untuk sementara. Ehh, ternyata anak-anak kos yang sebagiannya mahasiswi labil asik ngerumpi masalah cowok. Ada yang menjerit-jerit sambil menceritakan seniornya yang super cakep. Ada juga yang sedih harus long distance dengan pacarnya. Ada juga yang sementara pedekate. Ada juga yang mengaku habis putus cinta. Tapi, kenapa raut mukanya tidak nampak seperti orang yang habis putus ya? Ternyata, dia yang berpaling pada cowok lain. Ada juga yang paling fenomenal yang membuat satu kos-an gempar. Dia ini termasuk senior saya sih, hanya saja dia lanjut kuliah untuk dapat gelar master. Gara-gara putus dengan cowok yang menjadi pacarnya kurang lebih empat tahun, dia menangis sampai menakut-nakuti satu kos-an. Kenapa bisa membuat takut? Karena dia menangis tengah malam. Suara tangisannya seperti suara kuntilanak, meski saya tak pernah dengar suara kuntilanak sih, cuma di TV saja. Saya tak dapat memahami perasaan senior itu karena saya sendiri tak pernah menangis sampai segitunya gara-gara cowok.
Karena saya berada di lingkungan mahasiswa dengan teman kos yang semuanya cewek, saya harus bergaul dengan cara mereka. Tapi, tidak kekanak-kanakan juga. Kadang-kadang ada yang perlu diikuti dari mereka agar tampak lebih muda. Salah satunya mengikuti bahasa alay mereka. Jomblower tak boleh kudet dong! Bahasa alay itu ternyata dapat menarik lawan jenis. Tapi, sebenarnya bukan itu juga maksud saya. Cuma ikut-ikutan saja. Siapa tahu ada yang nyangkut. Hehehe….
Nah, kembali ke kantor lagi. Saya bukan tipikal orang yang suka update status di media sosial. Entah karena tak ada kata-kata yang menarik untuk saya tulis atau karena tak ingin menarik perhatian? Entahlah… Yang jelas, gara-gara itu saya pernah ditanya oleh teman kantor.
“Saya lihat kamu jarang update status?” tanya teman kantor saya.
“Iya, saya memang tidak terlalu suka update status!” jawabku tetap dengan senyuman.
“Kamu jangan seperti itu. Kamu harus membuka diri,” kata teman kantorku itu.
Karena pembicaraan ini terjadi di toilet wanita, saya tertolong sedikit. Ketika dia berkata ‘saya harus membuka diri’, kebetulan saya sudah di dalam toilet. Jadinya, saya tak perlu mengomentari kata-katanya. Alhamdulillah…
Setelah dipikir-pikir, omongan teman kantorku tadi sepertinya agak menyinggung. Saya harap bukan prasangka buruk. Tapi, saya jadi berpikir bahwa mungkin teman saya itu menganggap bahwa saya tak membuka diri karena jarang update status. Karena jarang update status, saya jadi tak punya pacar atau lebih tepatnya tak ada yang tertarik pada saya. OMG, semoga bukan itu maksudnya. Amin.
“Apa ada orang yang beranggapan seperti itu?” tanyaku pada diri sendiri.
Sungguh sempit pemikiran orang yang beranggapan seperti itu. Apakah cinta dapat diraih hanya dengan untaian kata-kata yang tertulis di media sosialmu? Apakah jodohmu akan datang begitu saja karena merasa terpanggil dengan rangkaian status yang kamu update setiap detik di media sosialmu? Agak lebay dikit gak apa-apalah.
Jawabannya bisa iya juga sih. Tapi, kalau mau dipikir setiap orang berbeda-beda. Bisa jadi, ada seseorang yang hendak mendekat tapi langsung bergerak mundur karena status yang kamu update itu. Bisa jadi juga orang akan menganggap kamu lebay dan sebagainya. Mungkin juga ada yang penasaran denganmu. Segala kemungkinan bisa terjadi.
Selanjutnya, cerita yang baru-baru ini terjadi. Kronologisnya seperti ini, waktu itu adalah acara Family Day yang diadakan kantor saya. Acara ini diadakan di luar kantor di sebuah waterpark yang lumayan besar. Acara ini bukan hanya diikuti oleh para karyawan saja. Tapi, keluarga karyawan juga ikut serta. Namanya juga Family Day! Kalau sudah bicara keluarga, otomatis ada suami, istri, dan anak. Kurang lebih pemandangan seperti itu yang saya lihat di acara ini. Saya sih biasa-biasa aja melihat pemandangan seperti itu. Tapi, ini kemudian menjadi momok yang kurang menyenangkan bagi para karyawan yang berstatus bujang dan gadis di kantor. Kenapa bisa begitu? Begini story-nya…
Pada saat breakfast, semua orang mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh panitia. Kami bebas memilih meja mana yang akan ditempati berkumpul untuk breakfast sama-sama. Tentu saja yang sudah berkeluarga duduk bersama keluarga mereka masing-masing. Sementara kami yang masih berstatus lajang memilih untuk berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba, ada seorang karyawan senior yang menghampiri kami.
“Coba kalian lihat! Semuanya berpasang-pasangan. Kalian mana pasangannya?” kata karyawan itu sambil menunjuk ke arah karyawan yang berkumpul bersama keluarganya masing-masing.
Kami para lajang hanya tertawa dan menganggap itu gurauan semata. Iya, itu memang gurauan. Tapi, cukup menusuk juga sih. Kalau dibilang sudah mapan untuk menikah, jawabannya iya.
Bicara kemapanan, saya jadi ingat seorang teman kantor saya yang cowok. Tak apalah menceritakan sedikit tentang kisah orang lain. Saya juga tak menyebut nama.
Nah, cowok ini kebetulan baru saja beli mobil baru. Posisinya di kantor juga lumayan diperhitungkanlah. Tapi, dia belum punya pasangan sampai sekarang. Dia dilangkahi oleh banyak teman kantor cowok yang lebih muda dari dia untuk menikah. Hal inilah yang membuat ia jadi bulan-bulanan para Bapak-Bapak di kantor.
Suatu hari seorang Bapak bertanya kepada dia yang membuat beberapa orang yang mendengarkannya jadi tertawa.
“Kamu kapan menyusul?” tanya Bapak itu.
“Tunggu saja undangannya, Pak!” jawab cowok itu.
“Memangnya kamu sudah punya pasangan?” tanya Bapak itu lagi.
“Masih mencari yang tepat, Pak!” jawab cowok itu lagi.
“Saya lihat di DP kamu juga tidak pernah ada foto bersama seorang cewek. Makanya, jangan pacaran sama mobilmu. Masa foto DP kamu dan mobil terus,” kata Bapak itu sambil tertawa.
Cowok itu hanya tersenyum mendengar gurauan Bapak yang tidak lain adalah manajer di departemennya sendiri.
Intinya, cowok ini sebenarnya sudah merasa sangat tersindir dengan berbagai macam omongan tentang statusnya yang masih lajang di tengah kemapanan usia dan ekonominya. Tapi, satu hal yang saya pelajari dari dia adalah tampang santainya ketika menghadapi situasi seperti itu. Saya pikir dia membawa enjoy semua pertanyaan orang kepada dirinya. Jadinya, dia bisa move on deh.
Saya sih, belum terlalu merasakan perasaan yang begitu dalam terhadap pertanyaan orang mengenai status hubungan. Saya hanya berusaha ber-positif thinking mengenai takdir Tuhan terhadap diri saya. Saat ini yang harus saya lakukan adalah move on. Dengan begitu, saya dapat meraih impian saya. Selain itu, jangan lupa memperbaiki diri dan attitude agar orang dapat melihat dengan jelas inner beauty-mu. Pada kesempatan ini juga, saya ingin share lagi pernyataan Mario Teguh yang sangat super bagi saya. Meskipun beliau sempat tersandung masalah, tidak bisa dipungkiri kata-kata motivasinya pernah mengena di hati saya.
“Tak apa kau menolak cintaku sekarang asal studi dan karirku sukses. Karena sukses akan membawa cinta yang lebih berkelas.” (Mario Teguh)
Entah kenapa setelah mendengar kata-kata itu, saya jadi bersemangat untuk sukses dan berusaha meraih mimpi. Ini juga salah satu kunci untuk menangkal pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Terlebih ketika ada yang mengatakan kepada kita, “Jangan terlalu serius bekerja nanti tak dapat jodoh.”
Justru dengan bekerja dan sukses di pekerjaan kita, chance untuk mendapat pasangan lebih besar. Pasangan yang berkelas pula. Siapa yang tidak mau!
Semua hal yang saya ceritakan di atas mungkin hanya sebagian kecil dari kisah seorang jomblo. Saya sering menemukan status atau display picture alias DP di beberapa media sosial teman saya yang berbunyi ‘Jomblo itu pilihan, bukan nasib’. Menurut saya, kata-kata itu betul. Kenapa? Karena kita menjomblo bukan berarti tidak ada yang suka dengan kita. Bisa jadi ada sekian banyak cowok yang pernah mengantri untuk mendapatkan cinta kita. Tapi, kenapa kita memilih untuk menjomblo? Jawaban sesungguhnya hanya diri kita dan Tuhan yang tahu. Setiap orang punya alasannya masing-masing dalam menentukan sebuah pilihan.
Satu hal yang pasti bahwa segala sesuatu yang diciptakan di dunia ini berpasang-pasangan. Jadi, para jomblo jangan pernah merasa takut bahwa dirimu tak akan bertemu jodoh atau tidak akan mendapat jodoh. Itu hanyalah sesuatu yang bisa menjadi sugesti dalam hidup kamu. Ketika itu menjadi sugesti, maka otak kamu hanya akan dipenuhi pikiran-pikiran negatif dan prasangka buruk terhadap takdir Tuhan. Hal ini dapat diibaratkan dengan sistem imun atau kekebalan dalam tubuh kita. Jika itu sudah bermasalah, maka penyakit akan mudah masuk dan menyerang tubuh kita.
Intinya, para jomblower tidak boleh berkecil hati atas setiap statement yang kurang enak didengar atau kebosanan yang melanda akibat sering mendengar pertanyaan yang sama. Tunjukkan kepada mereka bahwa kita tak sendiri. Ada banyak orang dan banyak hal yang menemani keseharian kita. Semua itu berguna, baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Ayo, biarkan aura kita yang berbicara kepada mereka semua.
Siapapun pasangan saya kelak, dia akan menjadi seseorang yang paling beruntung di dunia ini. Karena saya menyiapkan segala sesuatunya dengan baik ketika pasangan saya belum ada.

See you....😘😘

Tira dan Penjual Cimol

Happy reading...😍😍

Suatu hari Tira ingin pergi memancing. Ia menaiki sepeda hijau miliknya. Di perjalanan, ia melihat seorang penjual cimol yang sedang menjajakan dagangannya. Karena cimol adalah makanan favoritnya, ia langsung ingin membeli cimol itu hingga melupakan niatnya tadi. Sayangnya, ia tidak membawa uang sepeser pun. Lalu ia segera mencari ide.
Tiba-tiba, ide pun muncul. Ia mengambil alat pancingnya, lalu mengendap-endap mendekati penjual cimol. Dia menurunkan tali pancingnya. Kebetulan, penjual cimol itu kelelahan, lalu tertidur pulas di dekat gerobak cimolnya yang biasa saja.
Tira pun melemparkan tali pancingnya ke arah cimol yang tidak ditutupi. Ia memang pandai dalam hal ini. Kemudian, ia mengambil salah satu cimol dan sewadah bumbu yang terisi bumbu setengah bagiannya. Sebutir cimol dimasukkannya ke dalam wadah bumbu itu dan dimakannya. Itu saja belum cukup mengenyangkan. Tapi ia tidak memakan cimol yang lainnya, karena takut ketahuan si penjual cimol.
Saat ia duduk di dekat penjual cimol, penjual cimol itu terbangun dan bermaksud akan melanjutkan pekerjaannya. Sebelum itu, cimol-cimolnya dihitung terlebih dahulu. Ternyata cimolnya hanya tersisa 19. Padahal, sebelum ia tidur, cimolnya ada 20. Pasti dia yang mencuri cimolku, katanya sambil melirik seorang anak di dekatnya, yang tak lain ialah Tira. Dugaan itu sudah pasti tepat karena tidak ada orang lain lagi di sana selain mereka. Tira merasa dicurigai. Tanpa berpikir panjang lagi, ia bergegas menaiki sepedanya dan mengayuhnya secepat mungkin. Ia tidak ingin penjual cimol itu mengejarnya.
Penjual cimol itu benar-benar marah dan mengejarnya. Tibalah mereka di jalan buntu. Tak mungkin Tira melarikan diri lebih jauh lagi. Ia hanya dapat berhenti dan menunggu si penjual cimol itu melakukan aksinya. Benar saja, penjual cimol itu segera menangkapnya dan melaporkannya pada polisi. Ia menelepon polisi dengan smartphone samsung miliknya.
“Halo pak. Ada keadaan darurat di sini,” kata penjual cimol memulai percakapan melalui telepon.
“Ini polisi, bukan ambulan,” jawab polisi menanggapi.
“Maaf pak. Tapi saya memang membutuhkan polisi. Sekarang juga anda harus ke alamat ini: Jalan Buntu no. 19 Kota X. Cepat ya pak… Keburu kabur buronannya,” kata penjual cimol sambil mencengkeram tangan Tira dengan kuat supaya tidak kabur.
“Ya, ya pak. Saya akan ke sana secepatnya,” jawab polisi yang kemudian mematikan handphone milik temannya, karena dia sendiri tidak punya.
Setelah polisi sampai di lokasi kejadian, Tira diantar menuju ke pengadilan tertinggi, yaitu Mahkamah Agung. Berita kasus langka itu dengan cepat ditayangkan di televisi. Pengadilan itu memang bersifat terbuka. Seluruh penonton yang menyaksikan berita itu merasa tegang.
“Pak hakim! Saya akan menceritakan masalah besar ini!” teriak penjual cimol dengan lantang.
“Itu masalah kecil pak. Aku cuma mencuri sebutir cimol,” jawab Tira meralat kata-kata penjual cimol.
“Sudahlah, biar aku yang berbicara. Sekarang aku bertanya padamu, wahai panjual cimol yang mudah marah!” kata ketua hakim sambil menunjuk penjual cimol itu.
“Hei, jangan meremehkan aku! Mentang-mentang pejabat tinggi, bisa berbuat seenaknya! Seharusnya kamu membantuku mengatasi kemiskinan ini! Berikan peekerjaan yang baik kepadaku. Bukannya mengejekku seperti itu!” kata penjual cimol berapi-api. Seluruh penonton tertawa.
“Sebaiknya Anda tidak perlu menceramahiku. Seharusnya aku yang melakukannya. Anda hanya rakyat biasa yang tidak tau apa-apa. Itu bukan tugasku, tapi tugas pemerintah! Bukan pengadilan! Tugasku hanya memberi keputusan dengan bijaksana!” ujar ketua hakim menjelaskan.
“Pak, kalau begini terus, kapan selesainya pengadilan ini?” tanya Tira tiba-tiba.
“Ya! Sekarang kau ceritakan kasus itu. Jangan kelamaan, nanti penonton bosan menonton!” kata ketua hakim yang lagi-lagi menunjuk penjual cimol dengan tatapan heran.
“Begini pak. Tadi saat aku berjualan cimol di Lapangan QY, anak ini mencuri cimolku,” kata penjual cimol memulai ceritanya.
“Itu salah bapak sendiri. Kalau bapak nggak tidur, ceritanya jadi lain pak,” jawab Tira memotong pembicaraan.
“Diamlah kau anak nakal! Sekarang biarkan bapak ini melanjutkan ceritanya!” bentak wakil ketua hakim.
“Lalu aku menghitung cimolnya berkurang satu. Aku mengejarnya sampai Jalan Buntu no. 19. Dengan mudah aku menangkap dia. Sambil memegang tangannya, aku menelepon polisi, polisi membawa kami ke sini” jawab penjual cimol yang kemudian mengakhiri ceritanya.
“Baiklah,” kata ketua hakim mengambil napas panjang. Palunya digunakan untuk memukul mejanya sendiri sebanyak 3 kali. TOK! TOK! TOK!
“Ini kasus yang sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana. Keputusan yang kuberikan sudah tentu akan diterima. Aku memberi keputusan, bahwa tersangka dibebaskan dari hukuman apa pun!” ujar ketua hakim yang kemudian memukul meja dengan palunya lagi sebanyak 3 kali. TOK! TOK! TOK!
“Tapi pak, dia mencuri cimol saya. Sekarusnya dia dihukum. Nggak papa, walaupun hanya denda,” kata penjual cimol protes.
“Keputusanku sudah bulat. Tidak ada yang boleh melawan! Pengadilan dibubarkan!” teriak ketua hakim mengakhiri pengadilan. Seperti biasanya, palu khas andalannya digunakan untuk memukul meja khususnya lagi sebanyak 3 kali. TOK! TOK! TOK! Tentu saja Tira sangat gembira.
Pengadilan pun dibubarkan. Ternyata berita sekilas yang sangat sederhana itu ramai dibicarakan orang. Teman-teman dan guru sekolah Tira pun juga ada yang membicarakannya.
Tapi Tira tidak menyadari kalau kasus itu selalu dibicarakan teman sekelasnya juga, karena temannya selalu membicarakannya di waktu yang tepat, yaitu saat Tira tidak berada di dekat mereka. Tapi Tira tak peduli dan tidak jera. Ia tetap akan berada di pendiriannya, yaitu meluncurkan aksi pencurian cimol.
Pada hari-hari berikutnya, ia tetap mencuri cimol. Lebih baik aku mencuri cimol saja. Tidak perlu membayar dan tidak mendapat hukuman, gumamnya saat mencuri cimol. Anehnya, cimol yang dicuri hanya sebutir dan dilakukan ketika cimol di gerobak penjualnya berjumlah 20. Sudah 19 hari ia mencuri tanpa ketahuan.
Tiba-tiba, pada hari ke-20, ia tertangkap basah oleh penjual cimol. Polisi memberinya hukuman penjara selama sehari, karena cimol yang dicuri Tira setiap harinya hanya satu.
Saat keluar dari penjara, betapa senangnya hati Tira.
“Baiklah, sekarang kamu dibebaskan. Tapi ingat, jangan mencuri cimol lagi. Selain berdosa, kamu juga merugikan penjualnya, dan juga dipenjara kayak kemarin. Sekarang pulanglah dan ingat nasihatku” kata penjaga penjara memberikan nasihat.
“Ya, pak. Aku pulang dulu,” jawab Tira seraya pamit untuk pulang.
Keesokan harinya, ia memang sudah tidak mencuri cimol lagi. Tapi benda yang dicurinya adalah… Gerobak cimol! Benar-benar penggemar cimol sejati. Bendanya pun ingin dimiliki. Ia mencuri gerobak cimol itu saat penjualnya sedang tidur. Rupanya, itulah penjual cimol yang pernah kecurian cimol oleh Tira.
Tali yang dibawanya diikatkan pada sepeda dan juga diikatkan di tiang payung gerobak cimol. Kemudian ia menaiki dan mengayuh sepedanya yang menarik gerobak cimol menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia melepaskan ikatan tali pada sepeda dan gerobak cimol itu. lalu, gerobak cimol itu didorong ke gudangnya yang penuh debu dan noda. Ia memang belum membersihkannya.
Di lapangan QY, penjual cimol itu kaget melihat sebungkus cimol berisi 19 cimol matang. Gerobaknya lenyap begitu saja bagaikan tertiup angin. Ia langsung emosi setelah melihat Tira mendorong gerobak cimol menuju tebing. Tira tidak menyadari dan ingin pulang secepatnya. Karena jalan kaki, perjalanannya agak lama.
Pada saat itu, teman sekelasnya Tira yang bernama Tina datang menghampiri penjual cimol itu.
“Maaf pak. Apakah bapak adalah penjual cimol?” tanya Tina yang tidak sengaja mengagetkan penjual cimol.
“Ya, kamu mencari penjual cimol yang tepat. Dari mana kamu tahu itu?” tanya penjual cimol.
“Kayaknya aku pernah membeli cimol di tempat bapak. Tapi, di mana gerobak cimol bapak?”
“Apa kamu tidak tahu? Selain mencuri gerobak cimol, dia juga pernah mencuri cimol! Jika kamu menonton beritanya kemarin, kamu pasti akan tahu pelakunya. Kalau nggak tahu, juga nggak papa,”
Ternyata kamu, Tira, bisik hati Tina. Setelah membeli cimol, ia bermaksud akan pulang. Tapi pak penjual cimol melarangnya.
Apa kau kenal dia?” tanya penjual cimol memastikan.
“Eh, iya. Memangnya… Kenapa pak?” tanya Tina sedikit gugup.
“Tolong sebutkan alamatnya. Kalau bisa, berikan denahnya. Aku mohon. Jika kau berikan alamat itu, aku akan memberimu 4 butir cimol,”
“Hm… Setuju!” jawab Tina. Kemudian ia menjelaskan arah menuju rumah Tira yang tidak perlu disebutkan ke pembaca supaya tidak dikunjungi.
Penjual cimol diantarkannya melewati jalan pintas sampai di depan pintu. Setelah berterima kasih, mereka berpisah. Tina ke rumahnya, penjual cimol ke rumah Tira.
Ternyata Tira yang berada di dalam rumahnya sangat terkejut luar biasa.
“Pak, saya minta maaf ya…” kata Tira pura-pura memelas.
“Nggak boleh! Kamu harus membayar kerugianku,” tolak penjual cimol.
“Tapi aku nggak punya uang sekarang. Keluargaku belum mengirimkan uang ke rumahku,” jawab Tira berbohong.
“Baiklah, aku maafkan. Tapi suatu saat nanti, aku akan ke sini lagi untuk menagih hutangmu,” kata penjual cimol, kemudian pergi.
Setelah penjual itu hilang dari pandangan, Tira sangat senang karena penjual cimol itu sudah tidak bisa berjualan cimol lagi. Sekarang, Tira ingin pindah rumah supaya penjual cimol tidak dapat ke rumahnya.

See you...😘😘

Minggu, 18 Februari 2018

Akhir Dari Sebuah Persahabaran

Happy reading.....😍😍

Persahabatan diawali dengan sebuah pertemuan, dan harus diakhiri dengan sebuah perpisahan. Inilah yang dirasakan oleh chika dan chelsi, sejak pertemuan mereka di sekolah tempat mereka mencari ilmu. Keakraban mereka bisa diibaratkan seperti pepatah “dimana ada gula di situ ada semut”. Dimana ada chika di situ ada chelsi, dan begitupun sebaliknya.
Kekurangan chika, adalah kekurangan chelsi juga. Saling menerima, saling mengerti, saling melengkapi dan setia kawan adalah prinsip dari persahabatan chika dan chelsi. Mereka kelihatan sangat kompak. Ke manapun mereka pergi, mereka selalu saja bersama. Semua aktifitas pun mereka lakukan bersama. Saking akrabnya, mereka sampai lupa dan tidak peduli degan teman-teman lainya di sekolah mereka. Suka-duka, canda dan tawa mereka lalui bersama. Mereka merasa dunia ini seakan milik mereka berdua.
Waktu terus bergulir, tak terasa kini mereka berada di bangku SMP kelas IX, yang sebentar lagi mereka harus berpisah. Cepat atau lambat perpisahan akan mereka alami. Awalnya chika dan chelsi sepakat untuk ketika tamat smp nanti, mereka akan melanjutkan SMA dan harus satu sekolah. Tapi kenyataan berkata lain, chika harus berpisah dengan chelsi. Orangtuanya chelsi sudah mempersiapkan chelsi untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah yang berbeda dengan chika. Chelsi sangat sedih, ketika mendengar kabar dari orangtuanya. Hati kecilnya berkata, “kenapa kebersamaan kami harus berakir disini? aku tidak mau berpisah dengan chika” katanya. “akankah kebersamaan kami berakir disini?. Ya tuhan… aku tak sanggup menjalani hidup ini sendiri. mudah-mudahan bapak dan ibu berubah pikiran dan membatalkan pikiran mereka untuk memisahkan aku dan chika. Aku rindu chika, aku kangen chika apabila kami sudah tidak bersama lagi. Kayanya, aku harus membujuk chika agar dia ikut bersama aku. Tapi, bagimana dengan orangtuanya chika? Aku akan coba bicara dengan chika”.
Segala usaha sudah kulakukan, tapi semuanya sia-sia. Orangtuanya chika tidak menyetujui hal ini. Sekarang aku pasrah untuk menerima kenyataan ini. Jika memang tuhan berkehendak maka kami tidak akan dipisahkan tapi jika tidak maka walaupun berat, aku harus bisa menerima kenyataan ini. Demi masa depan, kami berdua harus berpisah. Tetapi aku yakin suatu saat nanti kami akan berjumpa kembali. Walaupun raga kami terpisah tapi hati kami akan selalu satu di dalam doa.

See you....😘😘

Arti Sahabat

Happy reading ...😍😍

Siang ini seperti biasa begitu mendengar bel istirahat berbunyi, semua murid SMAN 1 memasuki kelas masing-masing. Tidak terkecuali Dean dan Siska, kedua sahabat satu muka itu. Mereka dijuluki “satu muka” oleh siswa-siswi sekolahnya karena jika dilihat sekilas kedua wajah mereka hampir mirip dan bahkan nyaris sama! Padahal mereka berdua tidak memiliki hubungan darah. Hal yang membuat mereka mudah dikenali dan dibedakan adalah Dean berkacamata sedangkan Siska tidak.
Begitu tiba di kelas XII IPA 2, merekapun duduk di bangku masing-masing.
“Eh De, kamu bawa tugas IPA nggak?” tanya Siska sambil mengeluarkan seluruh isi tasnya satu-persatu.
“Aku bawa. Kenapa?”
“Kamu ngeliat buku tugasku nggak?”
Dean menggeleng, kemudian ia pun bertanya “Emangnya kamu nggak bawa?”
Tadi udah aku bawa. Tapii …” Siska menghentikan ucapannya, sambil mencoba mengingat ke mana dia meletakkan buku tugasnya itu. Kemudian …
“Aduh, mampus deh aku!” ujar Siska menepuk jidatnya.
“Loh, kenapa? Kamu udah tau di mana buku kamu?” tanya Dean.
“Duuhh … bukunya tadi aku bawa, trus aku taruh di kursi mobil. Waktu aku buru-buru turun dari mobil, aku lupa ambil. Aduuhh … gimana nih!?” kata Siska panik. Dan ketika itu juga Bu Rasty guru IPA yang killer itu memasuki kelas. Semua terdiam, begitu juga dengan Dean dan Siska.
Bu Rasty berdiri di depan kelas sambil menatap satu-persatu wajah murid kelas XII IPA yang pada tegang-tegang semua!
“Ehem. Kumpulkan tugas IPA yang Ibu kasih semalam sekarang juga!” perintah Bu Rasty tegas.
Semua murid pun satu-persatu mengumpulkan tugas.
“Duh .. De, gimana nih!?” ujar Siska panik ketika melihat Dean hendak mengumpulkan tugasnya.
Dean memandangi buku tugasnya itu, kemudian ia memandangi Siska dan berkata “Nih, ambil aja buku aku”
“Ha? Maksud kamu?” tanya Siska tidak mengerti.
“Udaahh .. ambil aja” ujar Dean dan langsung memberikan buku tugasnya yang kini berada dalam genggaman tangan Siska.
Siska memandangi Dean dengan heran. Dean hanya tersenyum tipis, kemudian ia melirik Bu Rasty yang kini tengah menatap mereka berdua.
Tiba-tiba Dean menarik buku yang berada di tangan Siska, ia pun langsung berkata, “Eh, Sis! Pinjam buku tugasmu dong, aku nggak buat tugas nih!?” ujar Dean dengan suara lantang yang membuat semua orang memandanginya.
Siska yang sama sekali tidak mengerti maksud Dean hanya bisa berdiri mematung ketika melihat Bu Rasty menghampiri mereka berdua.
“Ada apa ini?!” bentak Bu Rasty dengan suaranya yang keras.
Dean dan Siska hanya menunduk dan terdiam.
“Cepat jawab, ada apa ini?!” kata Bu Siska lagi. Kemudian Bu Siska mengambil buku tugas yang berada di tangan Dean.
Bu Rasty membuka dan melihat buku tugas itu, ia pun bertanya “Buku tugas siapa ini?”
“I-itu …”
“Punya Siska, Bu!” ucap Dean memotong pembicaraan Siska.
Bu Rasty memandangi Siska, “Benar punya kamu?” tanya Bu Rasty kemudian.
Sejenak Siska memandangi Dean yang tampak memberi isyarat agar ia menjawab “iya” . Kemudian, dengan terpaksa Siska pun menganggukkan kepalanya.
“Terus, kenapa buku ini bisa sama kamu Dean?” kini Bu Rasty mengalihkan pandangannya pada Dean.
“Saya mau pinjam, Bu” jawab Dean.
“Untuk?”
“Kan saya tidak bawa, Bu. Jadi saya mau pinjam”
“Oh, jadi kamu tidak bawa tugasnya?”
Dean mengangguk, yang membuat Siska terkejut mengapa ia bisa berbuat seperti itu.
“Bagus. Sekarang kamu dihukum berdiri di lapangan sampai jam istirahat!” pintah Bu Rasty.
Akhirnya Dean pun berjalan meninggalkan kelas menuju lapangan.
“Bu, kenapa Dean dihukum? Dia nggak salah” protes Siska setelah Dean meninggalkan kelas.
“Sudah jangan protes! Kembali duduk di kursimu!?”
Beberapa hari kemudian semenjak kejadian itu, Dean yang juga diberi hukuman tambahan oleh Bu Rasty tidak diperbolehkan masuk dijam pelajarannya selama satu minggu. Seperti biasa Dean mengisi waktu kosongnya dengan nongkrong di perpustakaan sambil membaca buku-buku.
Sementara itu, Siska yang tengah mengikuti pelajarannya bersama siswa-siswi lainnya dikagetkan dengan suara pintu kelas yang diketuk. Semua memandang ke ambang pintu. Tampak Pak Hartono, kepala sekolah SMAN 1 memasuki kelas bersama seorang cowok yang bertampang keren.
“Anak-anak, hari ini kalian kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Jakarta. Namanya Rangga” ujar Pak Hartono dengan suaranya yang tegas. Kemudian Rangga tersenyum ramah yang membuat sejumlah siswi-siswi kelas XII IPA 2 terpesona. Tidak terkecuali Siska, yang diam-diam di dalam hati mengagumi Rangga.
“Selamat datang Rangga, silahkan kamu duduk di …” ujar Bu Rasty mencari tempat duduk untuk Rangga, begitu Pak Hartono keluar kelas.
gimana kalo Rangga duduk di sini aja?” usul Siska tiba-tiba.
“Loh, bukannya itu tempat duduk Dean?”
“Emm … nggak papa kok Bu. Nanti saya yang jelasin ke Dean” ucap Siska yang pandangannya tidak pernah terlepas dari Rangga.
Bu Rasty terlihat berpikir sejenak, kemudian” Baiklah. Kalo begitu kamu pindahkan barang-barang Dean ke kursi belakang kamu. Dan Rangga duduk di samping Siska”
Dengan cepat Siskapun memindahkan barang-barang Deankekursi belakangnya. Rangga pun duduk di sebelah Siska.
“Aku Siska, salam kenal ya” ujar Siska pada Rangga. Rangga sejenak memandangi Siska, kemudian ia pun tersenyum tipis yang membuat Siska semakin tertarik pada pesonanya.
Bel istirahat terdengar berbunyi, Dean meletakkan buku-buku yang dibacanya ke rak buku perpustakaan. Ia pun melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan. Baru beberapa langkah saja berjalan, Dean terkagetkan ketika melihat Siska berjalan menghampirinya bersama seorang cowok yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
“Hai, De!” sapa Siska.
Dean membalas dengan tersenyum.
“Kenalin ini teman baru kita, namanya Rangga” ucap Siska memperkenalkan Rangga pada Dean. Sesaat Rangga dan Dean hanya saling berpandangan.
“Rangga” ucap Rangga sambil mengulurkan tangan kanannya. Namun Dean hanya membalas dengan tersenyum. Rangga sempat heran, tapi kemudian ia menarik tangannya kembali.
“Eh, De. Kita berdua mau ke kantin, kamu mau ikut?” tanya Siska.
Dean terlihat berpikir sejenak, kemudian ia pun berkata, “Nggak deh, Sis. Aku mau ke kelas aja”
“Oh ya udah, kita duluan ya De. Byee …” kata Siska sembari berjalan meninggalkan Dean.
Sepeninggal Siska dan Rangga, Dean sempat bertanya-tanya dalam hati melihat tingkah laku Siska yang tampak sangat senang tidak seperti biasanya.
Setengah bulan telah berlalu, hubungan pertemanan Dean, Siska, dan Rangga semakin dekat. Terutama Siska dan Rangga, tampaknya Siska mempunyai perasaan dengan Rangga. Itu yang dipikirkan Dean, karena setiap Dean dan Siska ngobrol ia selalu bercerita tentang Rangga.
Dan sejujurnya Dean cemburu. Tapi ia tidak tau harus bagaimana, baginya sahabat adalah segalanya.
Hari ini, kelas XII IPA 2 sedang melaksanakan ujian matematika. Dean telah selesai mengerjakan soal ulangannya dan ia pun diperbolehkan keluar ruang kelas. Ketika Dean sedang duduk di pinggir koridor sekolah, tiba-tiba ia merasa pundakya ditepuk oleh seseorang. Dean pun menoleh.
“Loh, Rangga” ujar Dean agak kaget.
Rangga tersenyum, kemudian ia pun ikut duduk di samping Dean.
“Kamu udah selesai ujiannya ya?” tanya Dean. Dan entah mengapa jantung Dean berdebar setiap menatap mata Rangga.
Rangga mengangguk pertanda iya, lalu keduanya hanya terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tapi kemudian, Rangga pun bertanya “Eh, ngomong-ngomong kamu dan Siska kembaran ya?”
Dean tersenyum,” Kamu adalah orang yang ke seratus bertanya seperti itu”
“Maksud kamu?”
“Aku dan Siska bukan kembaran kok. Kami hanya teman biasa dan bersahabatan”
“Masa sih?”
Dean mengangguk.
“Kirain kalian kembar. Oh ya, aku mau tanya sesuatu sama kamu”
“Kamu mau tanya apa?”
“Kamu udah punya cowok belum?” tanya Rangga hati-hati.
“Emang kenapa?”
“Nggak. Aku Cuma pengen tau aja”
“Oh, belum kok.” jawab Dean singkat. Padahal Dean berharap Rangga bertanya lagi, tapi tepat saat itu Siska yang baru selesai ujian datang menghampiri mereka berdua.
Dua minggu kemudian setelah kejadian itu …
“De, kamu serius mau pindah?” tanya Siska pada Dean yang tengah mengepak bajunya. Karena besok Dean dan keluarganya akan pindah ke Singapura.
Dean tersenyum, “Iya Sis”
Siska langsung memeluk Dean, “Aku pasti bakalan kanget banget sama kamu”
“Aku juga kok”
Kedua sahabat itu akhirnya melepaskan pelukan masing-masing. Dan Dean kembali mengepak bajunya dengan dibantu oleh Siska.
“Oh ya, Sis. Kalo kamu ketemu sama Rangga tolong kasih surat ini ke dia ya” kata Dean sambil memberikan sebuah amplop pada Siska. Dan Siska pun mengambil amplop yang berisi surat itu.
“Dan, kalo kamu kasih surat ini. Kamu mau kan sambil pakai kacamata aku?”
Siska yang sebenarnya tidak mengerti sama sekali apa maksud Dean hanya menuruti dengan anggukan kepalanya.
Keesokan harinya, Dean yang baru saja sampai di sekolah merasa kaget ketika melihat Rangga berlari menghampirinya.
“Eh, Rangga” ujar Siska.
Rangga tersenyum,” Ikut aku yuk!”
Rangga langsung menarik tangan Siska dan membawanya menuju taman belakang sekolah. Kemudian mereka duduk di kursi taman.
Sesaat keduanya hanya saling terdiam.
“Aku pengen ngomongin sesuatu sama kamu” kata Rangga memecah keheningan.
“Sebenarnya … dari pertama kali teman kamu kenalin kamu ke aku, aku udah suka sama kamu. Tapi aku nggak berani ngungkapin ini karena kamu selalu terlihat menjauh ketika aku berusaha untuk mendekatimu. Dan sekarang, aku mau tanya sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku, Dean?”
“Apa?!” Siska terlonjak kaget begitu mendengar perkataan Rangga, “Dean? Maksud kamu?!”
“I-iya, kamu Dean”
Siska melepaskan kacamatanya.
“Siska?” Rangga kaget begitu tau cewek yang di hadapannya adalah Siska bukan Dean.
“Iya, aku Siska. Bukan Dean”
“Tapi kenapa …”
“Aku memang pake kacamata Dean. Dean yang memberikannya padaku. Aku nggak nyangka ya, kamu lebih memilih Dean daripada aku. Udah jelas-jelas aku yang lebih dekat dengan kamu daripada Dean. Tega kamu ya Ga, tega!”
Siska langsung melemparkan sebuah amplop pada Rangga. Rangga tanpa banyak bicara langsung membuka amplop itu dan membaca isinya, sementara Siska berlari meninggalkannya.
Dear Rangga,
Maaf kalo aku nggak bisa kasih tau kamu soal keberangkatan aku ke Singapura. Dan gimana? Kamu udah jadian dengan Siska kan? Aku harap sudah. Tapi kamu jangan pernah memarahi Siska kalo dia berpenampilan seperti aku. Itu semua keinginanku, aku mau dia bahagia sama kamu.
Maafkan aku Rangga kalo semuanya jadi seperti ini. Karena inilah arti sahabat sesungguhnya
Dean.

See you....😘😘

Menyerah

Happy reading...😍😍

Davinia Dianta
“Dia kembali, Di. Dia kembali lagi ke dalam pelukanku,” ucapnya seraya mengguncang-guncang tubuhku dengan senang. Aku sempat terdiam untuk seperkian detik, baru setelah itu aku menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. Menandakan kalau diriku turut senang dengan kabar yang disampaikannya itu. Tak lupa senyum sumringahku untuk melengkapi semua kebahagiaannya.
“Sudah lama sekali kami tidak saling bertukar kabar, namun tiba-tiba saja dia datang dan langsung memelukku. Hari itu benar-benar hari yang paling bersejarah di dalam hidupku dan orang pertama yang harus kuberitahu adalah kamu,” Rafka kembali berceloteh riang tanpa jeda. Tak pernah kulihat dia sebahagia ini dalam beberapa tahun terakhir saat aku bersamanya. Sepertinya kembalinya Lea ke dalam kehidupannya, cukup membangkitkan semangat hidupnya yang sempat redup. Dan lagi-lagi aku diharuskan untuk menyerah. Ya, aku memang seharusnya menyerah. Mana mungkin aku bisa menggantikan posisi Lea di hatinya. Dan seharusnya aku menyadari semua itu sedari dulu. Mungkinkah karena aku terlalu terjebak di dalam zona nyaman disaat aku bersamanya? sehingga tidak menyadari kalau diriku ini tak lebih dari seorang sahabat yang selalu setia mendengarkan setiap keluh kesahnya.
“Di, kamu enggak apa-apa kan? kamu enggak merasa dipermainkan olehku kan?” tanyanya panik sewaktu melihat perubahan dari raut wajahku. Dia memang selalu bisa menebak-nebak perasaan apa yang tengah aku rasakan. Yang terkadang membuatku sedikit kesal karena terus menanyakan beragam pertanyaan yang sangat sulit untukku jawab.
“Enggak kok, aku cuma sedikit kaget saja,” jawabku berbohong.
“Kamu selalu saja berpura-pura tegar di hadapanku,” Rafka berkacak pinggang di hadapanku. Yang cukup membuatku tertawa kecil karena tingkah konyolnya.
“Aku memang orang yang selalu tegar dan kamu lupa itu, Raf? hah, dasar pelupa,” selorohku berusaha untuk membuatnya percaya. Namun yang terjadi, malah sebaliknya.
Tiba-tiba saja dia langsung memelukku dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang. Aku sempat memberontak, namun ditahan olehnya. Sehingga memebuatku memilih untuk mengalah kepadanya. Karena yang aku tau dia orang yang tidak suka dibantah.
“Menangislah sepuasmu! Aku tau bagaimana sakitnya dirimu. Sakitnya dipermainkan oleh pria sepertiku. Maafkan aku karena telah membuatmu berharap. Maafkan aku yang tidak pernah bisa memberimu suatu kepastian. Maafkan aku karena tidak bisa memilihmu,” dan setelahnya, aku benar-benar menangis. Runtuh sudah semua pertahananku selama beberapa tahun ini. Pertahanan yang terlihat kokoh di luarnya namun rapuh di dalamnya. Dan di dalam pelukannya inilah, aku sadar kalau aku memang seharusnya menyerah.
Muhammad Rafka Adrian
Sesudah kejadian menyakitkan itu, aku tak pernah bertemu lagi dengan Dianta. Dia pun seperti sedang menjauhiku. Setiap kali tanpa sengaja kami bertemu di persimpangan rumahku, dia selalu saja menghindar. Dan harus kuakui ada yang hilang disaat dia tidak ada. Entah apa itu, aku pun kurang memahaminya. Mungkin karena kami selalu sering bersama beberapa tahun terakhir ini dan hanya Dianta yang benar-benar ada disaat aku membutuhkan seseorang. Dianta orang yang terlampau jujur menurutku. Disaat dia mulai menyukaiku, tanpa berpikir panjang dia langsung mengutarakan semua perasaannya. Dan hebatnya gadis itu rela menanggung resiko, apabila ditolak olehku. Hanya satu hal yang tidak kusukai dari Dianta, dia tidak pernah jujur akan sakitnya mencintai pria sepertiku. Dia tetap berada di sampingku, kapanpun aku merindukan Lea dan dia akan setia mendengarkan semua hal yang berkaitan dengan Lea. Berusaha memberikan nasehat yang terbaik, meskipun saat itu dia ingin sekali pergi sejauh-jauhnya dari hadapanku.
“Raf, lagi ada waktu enggak?” entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Dianta sudah duduk tepat di sampingku. Dia tersenyum manis kepadaku seperti biasanya, seolah-olah tak ada kerenggangan yang terjadi di antara pertemanan kami.
“Apa aku terlihat payah?” tanyanya dengan senyuman yang ia paksakan. Aku menggeleng sebagai jawaban, tak mungkin aku berkata jujur di situasi yang kaku seperti ini. karena sejujurnya, dia terlihat payah sekali. Rambutnya tidak serapi biasanya dan juga wajahnya terlihat kuyu. Seperti tak ada semangat hidup di dalam dirinya. Namun lagi-lagi dia berusaha menutupi semuanya dengan senyuman cerianya.. sehingga membuatku enggan untuk mengomentarinya lebih jauh.
“Aku memang terlihat payah beberapa hari ini. tapi sudahlah, aku ke sini bukan untuk membahas masalah itu,” Dianta mengibaskan tangannya tak peduli, “Tujuanku menemuimu hari ini hanya ingin berpamitan,”
“Berpamitan? memangnya kamu mau ke mana?” tanyaku tak bisa menutupi rasa kagetku sekaligus rasa penasaranku. Kulihat tanggapannya hanya tertawa kecil dan malah menyodorkn sebuah kado berwarna biru kepadaku. Aku terdiam, tak berniat mengambil kado tersebut.
“Ambillah, ini kado yng kujanjikan dua tahun yang lalu,” dia memaksaku untuk menerimanya. Sementara dia membujukku, aku malah menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa dia masih mengingat janji yang telah lalu itu? yang aku sendiri pun sudah lupa apa yang dijanjikannya padaku.
“Di, ini terlalu berlebihan. Entah apa yang kau janjikan padaku dulu, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya,” tolakku halus.
“Aku tidak mau tau, kamu harus menerimanya,” sifat egoisnya mulai ia tunjukkan, sehingga membuatku terpaksa untuk mengalah. Melihat kekalahanku, senyum Dinta kembali merekah. Malah ia sudah menepuk-nepuk pipiku, hal yang biasa ia lakukan apabila sedang bahagia.
“Terimakasih Rafka untuk semuanya,” setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung pergi begitu saja dari hadapanku. Datang secara tiba-tiba, pergi pun juga begitu. Dasar gadis aneh!
Belum sempat kado darinya ku buka, sepucuk surat meluncur deras ke bawah kakiku. Aku menatap surat itu dengan kening berkerut dan kemudian mengambilnya. Tulisan tangan Dianta yang rapi langsung menyambut penglihatanku. Dan kalimat pembukanya, dia tuliskan gelar yang kusematkan untuk diriku sendiri. Yaitu spesies aneh. Benar-benar luar biasa daya ingatnya, karena gelar itu sudah lama sekali aku beritahukan padanya. Mungkin berkisar empat tahun yang lalu. Sementara aku? seperti biasa. Selalu saja lupa hal-hal kecil yang menurutku memang tidaklah penting untuk diingat. Ah, terserahlah. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah isi di dalam suratnya. Semoga saja di surat inilah, dia memberitahukanku ke mana dia akan pergi.
Dear spesies aneh…
Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Sudah beberapa hari ini aku menjauhimu dan selama itu pula aku harus menahan rasa rindu ini.
Apakah kau merindukanku juga, Rafka?
Ah, seharusnya pertanyaan itu tak aku lontarkan kepadamu. Lagipula, sekarang kamu sudah bersama Lea. Jadi, aku kira kau sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Apalagi sampai harus merindukanku.
Oh iya…
Sore ini aku harus pergi. Aku ingin melanjutkan studyku ke Solo. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?
Kalau kamu membutuhkanku nanti, hubungi aku.
Aku siap mendengarkan semua keluh kesahmu.
Dan satu lagi…
Jangan datang ke bandara untuk mengantarkanku pergi. Aku hanya takut kalau aku tidak bisa pergi karena kehadiranmu itu.
Aku takut harapan itu akan kembali datang. Jadi, kumohon jangan pernah datang untuk mengantarkanku pergi.
Dan seperti yang kamu katakan dulu, kalau aku sudah menyerah akan cintaku. Maka lambaikan kedua tanganmu ke arah kamera.
Dan sekarang hal itu akan aku lakukan.
Aku menyerah Rafka, untuk mendapatkan cintamu.
Maafkan aku yang dulunya terlalu berharap lebih padamu.
Tertanda
Dianta, si gadis kaku.
itu jaket yang kujanjikan dulu. Honor pertama dari hasil kepenulisanku beberapa hari yang lalu.
Benar-benar gadis bodoh.. tanpa sadar aku mengumpatnya dalam hati.
Bagaimana bisa dia sebegitu bodohnya?
Aku tau kalau dia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanku. Tapi sadarkah dia, kalau perbuatannya itu sungguh kekanak-kanakan. Dengan perginya dia yang mendadak seperti ini, menandakan kalau dia melarikan diri dari semua masalah ini. Ah, terserahlah. Aku tak mau ambil pusing lagi dengan semua ini. Biarlah nantinya, semuanya terlupakan dengan sendirinya dan juga semoga saja rasa cinta itu hilang dari dalam hati Dianta.
Maafkan aku, Di… gumamku pelan seraya beranjak pergi. Siang ini aku ada janji dengan Lea, semoga saja dengan bertemunya aku dengan Lea. Aku bisa melupakan sejenak tentang kepergian Dianta. Ah, semoga saja.

See you...😘😘

Jumat, 16 Februari 2018

Air mata seorang kawan

Happy reading...😍😍

Mah, korupsi itu apa sih?” tanya Kintan.
Mama agak bingung juga menjawab pertanyaan anaknya yang berumur delapan tahun duduk di kelas tiga SD. Kintan kelihatannya tidak serius dengan pertanyaannya tadi, malahan sekarang sedang asik main Boneka. Mamanya menonton TV kembali mengabaikan pertanyaan Kintan tadi
“Jahat mana Korupsi dengan Maling?” Tanya Kintan lagi. Kali ini Boneka ditinggalin lalu mendekati pangkuan mamanya.
Mama enggak tau ya, jahat mana korupsi dengan maling?” rupanya dia bertanya serius ke mamanya dan biasanya kalau sudah begini harus ada jawabannya atau dia akan mengambek
“Lebih jahat korupsi.” jawab Mama.
Kintan termangu dan menatap mata Mamanya sambil berpikir.
“sama Ryan pembunuh itu, jahat mana?” tanya Kintan
Wah ini pasti Ryan pembunuh berantai yang dari Jombang itu. Ada rasa bersalah di hati Mama kenapa Kintan bisa tau berita tentang Ryan itu dan memori itu kini keluar mengikuti keingin-tahuannya tentang korupsi. Harusnya Kintan tidak boleh nonton berita tentang pembunuh sadis itu
“Mah, lebih jahat mana?” Ih mama ditanya malah bengong”
“Kejahatannya berbeda, Nak, Ryan membunuh banyak orang, sedangkan Korupsi itu mencuri uang Negara” kata Mama.
“lebih jahat mana, mah?” Pasti ada yang lebih jahat dong!” Sanggah Kintan
“Pokoknya sama-sama jahat deh, Korupsi itu membuat Negara jadi miskin, akibatnya banyak orang jadi melarat anak-anak kecil menjadi pengemis ga bisa makan dan sekolah, kalau sakit ga bisa berobat”
Kintan tercengang-cengang dengan penjelasan itu “Masa sih sejahat itu?” Kintan berkata sambil terisak-isak. Mama terkejut dengan pernyataan Kintan belakangan. “Lho, kamu kenapa, Nak?”Tanya Mama
“Masa sih Mamanya Marni se jahat itu? Hiks hiks, Maa..! Mamanya ditangkap karena korupsi” kata Kintan.
Terkejut Mama mendengar jawaban itu “Kamu tau dari mana, Nak? Mudah-mudahan tidak benar.
“Sonya yang bilang, dia tau dari Mamanya” Jawab Kintan
Marni adalah teman Kintan, hampir tiap hari mereka bersama, belajar bersama. Marni anak orang kaya menurut ukuran di kampung ini, Mama dan Papa nya kerja, di rumah tinggal Marni dan Abangnya Rizki, Rizki duduk di SMP kelas dua. Kintan dan Marni berkawan sejak dari TK sama dengan kawan-kawan sekelas lainnya. Keluarga orangtuanya Marni naik daun sejak Ibunya yang PNS bekerja di Dep Keu bagian Pajak. Tapi biarpun menjadi orang kaya
Marni tetap akrab dengan Kintan, bahkan Mamanya sering membagi oleh-oleh buat Kintan jika pulang dari bepergian
“Oh Tuhan tolonglah Mamanya Marni dan jangan sampai dia menjadi Koruptor, jangan biarkan dia tertangkap, lepaskan dia Tuhan, amin. Kintan berdoa untuk kawannya Marni…
Suasana pagi di SDN 233 Kampung Sari sudah mulai ramai, anak-anak dengan seragam putih merah sudah mulai berdatangan, sebagian sudah ada yang bermain di halaman sekolah, anak-anak perempuan duduk di teras depan kelas sambil ngobrol.
Dia belum datang juga, pikir Kintan. Berarti benar Ibunya di tangkap polisi kemarin seperti cerita orang-orang. Tak terasa air matanya menetes buat kawannya Marni.
“Udah ga usah ditungguin, ibunya aja Koruptor ngapain ditungguin, ha ha ha” Suara seorang anak lelaki memecah lamunannya”
“Huuuu ngapain juga temenan sama dia, anak Koruptor aja” Suara anak yang lain
“Najis!”
Kintan melihat teman lelakinya 3 orang sedang tertawa-tawa melihatnya bersedih untuk Marni
“Yeee siapa?” emangnya Gue, huh!” Kata Kintan sambil berlalu.
Ia berjalan mendekati kawannya Dewi, Sonya dan Desi yang sedang ngobrol di dekat pintu ruangan kelas 3b
“Belum tentu benar kata Bapak gue, itu kan baru tersangka” Kata Dewi.
“Tapi kenapa Ibunya di tangkap, kalu ga bersalah ga mungkin di tangkap” Kata Sonya.
“Ya ga tau, kan itu kata bapak gue, lu tanya aja ke bapak gue hi hi hi” Jawab Dewi
“Bodo! Pokoknya kata nyokap gue korupsi itu jahaaaat banget kayak teroris” Kata Sonya “Eh Kintan, sini deh jangan temen sama Marni lagi, Mamanya Koruptor, najis!
Kintan tertegun mendengar kata-kata Sonya, dia tidak sanggup berkata-kata.
“Lho memang kenapa kalau dia berteman sama Marni?” Tanya Dewi.
“Ihh namanya najis ya menular hi hi hi Lu mau jadi najis juga? Ya terserah” kata Sonya
Kintan tidak sanggup melihat kenyataan sekelilingnya dia kembali melihat ke 3 anak lelaki tadi, melihat ke kawan Sonya dan kawan-kawan, dia melihat ke anak-anak yang lain mereka semua sepertinya melihat dia meneteskan airmata untuk Marni dan mereka semua mengatakannya ; jangan berteman dengan Marni….
Di dalam kelas 3b
“Anak-anak mohon perhatian semuanya , sebelum mulai pelajaran Ibu ingin menjelaskan pertanyaan yang ditanyakan beberapa orang murid.” Kata Bu Nina wali kelas 3b
Anak-anak mendadak diam, Bu Nina menunggu anak-anak tenang dulu lalu berkata:
“Ibu ingin bertanya, tolong yang sudah tau di jawab bergantian ya, siapa yang sudah pernah dengan kata Korupsi? Dengar dari mana atau siapa?”
“Saya Bu, kata Tono yang duduk di depan, nonton di televisi Bu.”
“Ya, Bu, lihat di televisi Bu.” Sambung menyambung anak-anak menjawab dari TV
“Saya mendengar dari Mama waktu mengobrol dengan Papa” jawab Sonya
“Ya, betul jadi kita mendengar dan melihat korupsi itu dari berita di TV.” Jawab Bu Nina
“Horeeee, aku betul” seru anak-anak rame-rame
Bu Nina kembali menenangkan murid-muridnya
“Menurut kalian, apa itu Korupsi?” Tanya Bu Nina kembali
“DPR Bu” kata Tono lagi, yang lain mengiyakan. Jawaban yang membuat Bu Nina tersenyum.
“Siapa yang mengerti apa itu Korupsi?”
Murid-murid saling melihat satu sama lainnya sambil berpikir tapi nampaknya mereka belum mengerti apa artinya
“Korupsi itu jahat, kata mama, lebih jahat dari pada Maling dan hampir sama dengan Teroris.” Kata Sonya “Jangan mau berteman sama anak korupsi”
“Ha???.” Seru yang lain ber ramai-ramai
“Teroris itu apa?” Tanya Dewi. “Huuuu Teroris aja enggak tau, cemeeen!” Kata seorang anak laki-laki
“Ehh, tidak boleh begitu, kalau kamu tau apa itu teroris ya jelaskan.” Kata Bu Nina
“Teroris itu yang suka bunuh banyak orang pake Bom.” Kata Tono
“Korupsi enggak ada yang pake Bom.” Kata Joko
“Sekarang kalian diam dulu anak-anak.”
Anak-anak diam kembali
“Siapa yang tau korupsi itu kejahatan seperti apa?” Tanya Bu Nina
Anak-anak tidak menjawab malah berbisik-bisik tapi tidak ada yang menjawab. Mereka kebingungan dengan kata korupsi itu
“Kalau begitu ibu beri contoh; misalnya ibu menyuruh Joko membeli Air Mineral yang harganya Rp. 3000.- Joko pergi membeli dan dia bilang bahwa Air Mineral ini harganya Rp. 5000.- Jadi Joko mengambil uang lebihnya Rp. 2.000.- Nah itu yang namanya Korupsi
“Wah, Joko Penipu!” kata seorang anak. “Pencuri!” “Maling!”
“Ehh, bukan Joko, kan Ibu bilang misalnya Joko.” Kata Bu Nina
“Kalau koruptor itu apa Bu?” Tanya Jane
“Koruptor itu orang melakukan korupsi” Jawab Bu Nina. “Anak-anak masih ada pertanyaan?”
“Lebih jahat mana Koruptor sama Maling?”
“Maling itu mengambil uang seseorang di suatu tempat, tapi Koruptor itu mencuri uang Negara sehingga Negara jadi miskin dan menyengsarakan banyak orang, jadi…. menurut kalian siapa yang lebih jahat?”
“Koruptor…….! Jawab mereka serempak
“Eh, Kintan kenapa, Nak ? Kenapa kamu menangis ?” Tanya Bu Nina. “Ga apa apa Bu, kata Kintan sambil menghapus airmatanya
“Anak-anak dengar pengumuman dari Ibu ya. Kawan kita Marni sedang di timpa musibah. Kalian mengerti…?”
“Mengerti, Bu guru….!”
“Bagus…! Bagaiman seharusnya sikap kita terhadap kawan kita yang sedang tertimpa musibah?”
“Menolong, Bu…!” Jawab sebagian anak-anak. “Kata mama ga boleh temen sama anak Koruptor, Najis!” Kata Sonya.
“Kalian dengar, anak-anak…! Kalian harus belajar untuk tidak menyalahkan orang lain apalagi mengatakan Najis! Mengerti…? Ibunya Marni sekarang disebut tersangka jadi dia belum tentu betul-betul melakukan korupsi. Mengerti…?
“Jika nantinya ternyata Ibunya terbukti melakukan Korupsi nanti dia akan di hukum tetapi… itu bukan salahnya Marni kawan kalian, mengerti….?”
“Mengerti Bu Guru……!” Jawab anak-anak…
“Bang minta siomay satu dong..!” Kata Mama Dani ke Penjual Siomay. “Baik Bu!” Jawab si Abang. Mama Dani dengan ibu-ibu yang lain sedang menunggu di tempat tunggu di depan sekolah
“Enggak pesan sekalian, Mama Mel?” Tanya Mama Dani yang anaknya duduk di kelas dua kepada Mamah Melati yang anaknya juga di kelas dua
“Ah nanya doang traktir kagak.” Jawab Mama Mela bercanda sambil ketawa
“Ntar gue korupsi dulu ya, baru gue traktir.” Jawab Mamah Dani
“Najis!” Kata Mama Mela sambil ketawa “Ntar gue mencret-mencret makan hasil korupsi.”
“Ala.. jangan muna deh lu, emangnya uang hasil korupsi teriak-teriak gue hasil korupsi?” Kata Mama Dani. “Lagian belum ada fatwa yang menyatakan uang korupsi haram.”
“Kalau ada fatwa pun belum tentu di dengar.” Kata Mama Mela
“Minimal kan bagi calon pelaku korupsi tau bahwa korupsi itu haram.” Kata Mama Dani
“Ah udah ah lu makan aja tuh, ga usah ceramah ah namanya Koruptor ya tetap aja Maling Busuk, nanti Si Marni juga bakal jadi Koruptor Najis!
“Eh Kintan…!” nunggu mama jemput ya?” Kata Mama Dani melihat Kintan melihatnya sambil melongo
Kintan sudah mendengar obrolan mereka dari tadi, airmatanya tak terasa menetes lagi. Dia tidak tau apa korupsi itu, korupsi adalah dunia orang dewasa.
Kintan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan kawannya Marni jika harus menghadapi sikap semua orang, apa salah Marni……

See you...😘😘

Menolak itu Penting

Happy reading...😍😍

Namaku Cantika, tahun ini aku masuk semester 5 dalam perkuliahan. Aku sering dipanggil cika, aku adalah seorang yang sangat sulit menolak permintaan orang lain. Teman-temanku sering menegur aku bahkan memarahiku ketika aku tidak berani menolak permintaan orang lain yang membebaniku. Tapi tetap saja aku tidak bisa menolaknya karena aku merasa segan.
Aku sangat suka mengambil mata kuliah atas ketika sks ku memenuhi untuk mengambilnya. Di semester ini aku mengambil satu mata kuliah atas. Dalam mengikuti mata kuliah ini aku selalu dengan seorang kakak bernama Vika. Di kampus tempat aku kuliah berasal dari baragam-ragam suku, Vika adalah salah satu yang satu suku dengan aku. Ketika pergi ke kampus mengikuti mata kuliah atas yang kuambil yaitu Psikologi kami selalu berangkat sama-sama bahkan duduk di kelas pun berdekatan.
Tiba saatnya kami mengikuti ujian tengah semester. Dosen pengampu memberikan tugas untuk mengerjakan soal sebanyak 8 nomor. Ketika dalam perkuliahan, dosen memberikan penjelasan tentang ujian kami.
“Tugas TTS kalian adalah mengerjakan delapan soal ini dengan catatan setiap soal harus dijawab dengan 10 sumber buku dan memakai empat buku bahasa Inggris setiap soal. Tugas ini dikerjakan diluar perkuliahan dan saya memberikan waktu 2 minggu untuk kalian mengerjakannya”. Kami sebagai siswa cukup syok dengan tugas ini. Aku hanya diam dan bingung bagaimana aku akan mengerjakannya karena aku sangat kesulitan dalam bahasa Inggris. Aku mencoba tegar menghadapi tugas ini, dalam hati aku berkata aku pasti bisa mengerjakannya hanya butuh usaha yang maksimal.
Setelah selesai perkuliahan Vika mendekatiku dan berkata ”Cika, nanti kita ngerjain tugasnya bareng ya, soalnya kalo ngerjakan sendiri aku malas”.
“Oke kak Vik, kabarin aja kapan kita mulai mengerjakannya”.
“Iya nanti aku kabarin kamu deh, biar nanti kita kerja bareng di perpustakaan”.
“Ide bagus kak, kalo bisa kita kerjain secepatnya soalnya tugasnya banyak banget”. Sambil aku menelan ludah mengingat banyaknya sumber yang harus dicari.
Beberapa hari kemudian kami pergi ke perpustakaan bersama seorang kakak senior namanya Rio, dia juga mengambil mata kuliah yang sama dengan kami. Di perpustakaan kami berusaha masing-masing mencari sumber untuk menjawab soal ujian.
“Kak, kita cari sumbernya masing-masing terus nanti kita gantian pakai bukunya biar tugas kita cepat selesai.”
“Okee siapp, ya udah yuk kita cari bukunya di sebelah sana sepertinya sumbernya banyak di sana”.
Kami bertiga semangat mencari sumber sampai-sampai karena banyaknya kami membawa beberapa tumpukan buku untuk dikerjakan.
“Waduhh kalo sebanyak ini belum baca saja aku udah pusing” ujar kak Rio. Kami mulai membaca buku itu dan berusaha menemukan jawaban yang tepat. Aku mulai serius mencari dan mendapat beberapa jawaban.
Ketika kak Rio melihatku kesulitan membaca sambil mengetik jawaban dia menawarkan untuk membacakannya untukku dan aku yang mengetikkan. Aku setuju dan kami mulai mengerjaknnya bersama-sama. Aku melihat kak Vika yang sedang asik dengan HP nya, dia mengabaikan buku-buku yang telah dia ambil dari rak buku. Aku tidak berani menegur dia karena aku takut dianggap sok rajin.
Setelah beberapa jam aku dan kak Rio hanya bisa menjawab beberapa soal saja sedangkan kak Vika tidak ada menjawab satu soalpun karena dia hanya fokus dengan HP-nya. Setelah kami pulang dari perpustakan aku merasa kesal karena hanya sedikit yang bisa kami jawab setelah berjam-jam di perpustakan dengan kondisi tidak ada makanan apapun yang masuk kedalam perut mulai dari pagi sampai sore.
Aku terus berusaha mengerjakan tugasku setiap kali aku punya waktu luang. Setelah batas pengumpulan akan tiba kak Vika menghubungi aku.
“Cika, tugas kamu sudah siap kah?”
“Belum kak Vika, ada beberapa nomor lagi yang belum aku jawab, kak Vika sudah selesai?”
“Belum nih, aku bagi jawaban kamu ya soalnya aku baru selesai nomor 1 nih.” Aku terdiam beberapa saat mendengar perkataannya, sebenarnya sih dalam hatiku menolak tapi aku gak bisa melakukan itu.
“Mmm…, ya udah deh kak nanti aku kirim ya.”
“Okee Cika jangan lupa ya, nanti aku kasi jawaban aku no 1 sama Cika trus soal yang udah Cika jawab kirim ke emailku ya.”
“Oke deh kak.” Aku menjawab dengan sedikit kesal dan sangat ingin menolaknya. Tapi karena aku tidak bisa menolak akhirnya aku mengirimkan jawabanku.
Aku menceriterakan itu pada kak Rio, dia memarahiku karena aku memberikan jawabanku pada kak Vika.
“Aduhh Cikaa, kamu gimana sih?!!”
“Kalo dia gak ada usaha biarin aja tugasnya gak selesai, itu kan salah dia.”
“Awas kalo dia ikutin jawaban kamu persis kamu pasti dikatakan plagiat sama dosen kita.” Aku menjadi khawatir mendengar perkataan kak Rio.
“Aku gak bisa nolak dia kak Rio, tadinya sih aku pengen banget menolaknya tapi apalah daya diriku yang gak bisa nolak ini.”
“Cika cika, (sambil menggaruk kepalanya) harusnya kamu itu memberanikan diri untuk menolaknya, kamu sih gak memikirkan dulu apa resikonya jika kamu memberikan jawaban kamu.”
“Maaf kak Rio tapi udah terlanjur aku memberikan jawabannya kak”. Aku menyesali tindakanku yang tidak berpikir dahulu dan langsung bertindak.
“Yaaa udah terlanjur juga kan, lain kali kamu harus bisa menolak sesuatu yang bisa membahayakan kamu. Pokoknya Cika harus belajar berani menolak yang tidak penting dari sekarang”.
“Okee?!” Kak Rio menepuk pundakku.
“Okee siappp pak!”, aku memberikan hormat pada kak Rio.
“Hahaha kamu ini, bercanda terus”. Kak Rio tertawa melihat tingkahku.
Tiba waktunya pengumpulan tugas, aku, kak Rio dan kak Vika pergi mengumpulkan tugas bersama ke kantor dosen kami. Setelah mengumpulkan tugas aku sedikit lega karena bebanku sudah berkurang. Tapi tiba keesokan harinya Dosen mengirim pesan ke emailku dan mengatakan bahwa aku dan kak Vika plagiat (jiplakan) karena ada jawaban kami yang sama persis. Aku sangat syok membaca email itu aku teringat dengan perkataan kak Rio. Rasanya aku pengen menangis, aku benci dengan diriku karena perbuatanku.
Beberapa hari aku gak keluar dari kos dan hanya menyesali apa yang telah terjadi. Kak Rio mengetahui hal ini dan dia menemui dan berusaha menghiburku yang sedang terpuruk karena aku dikatakan plagiat. Dan yang paling menyakitkan bagiku adalah ketika kak Vika mengatakan kepada orang lain bahwa akulah yang melihat jawabannya. Saat kak Rio menemuiku aku menangis dan ingin marah sama kak Vika yang ternyata menusukku dari belakang. Aku memberikan jawaban padanya tanpa membeberkan sama orang lain selain kak Rio karena aku percaya sama kak Rio dia tidak akan mengatakan hal itu kepada orang lain. Tapi kak Vika justru memutar balikkan fakta.
“Kak apa yang harus aku lakukan?”
“Aku takut mendapat nilai E kak, nanti IPK aku turun mama sama papa pasti marah sama aku.” Aku menangis tersedu-sedu.
“Udah dong Cika jangan nagis lagi ya, itu pelajaran buat Cika supaya kedepannya gak melakukan kesalahan yang sama. Cika harus kuat dan berdoa sama Tuhan biar nilai Cika nanti bagus. Bukan kesalahan Cika dikatakan Cika plagiat tapi kecurangan yang dilakukan Vika. Cika harus sabar ya.” Kak Rio berusaha menghiburku.
“Iya kak, mulai dari sekarang Cika harus berani menolak orang,” ujarku menguatkan diri sendiri.
Aku berdoa sama Tuhan agar semester ini aku mendapat nilai yang bagus dan meningkat dari sebelumnya. Aku lulus dalam mata kuliah Psikologi yang dikatakan aku plagiat meskipun dengan nilai yang kurang memuaskan. Aku bersyukur atas kejadian ini karena aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dalam hidupku. Kejadian ini membuatku untuk lebih waspada terhadap apapun juga. Berpikir sebelum bertindak itu sangat penting, walaupun dalam situasi genting kita harus mampu berfikir untuk melakukan tindakan agar kita mengambil tindakan yang tepat.

See you....😘😘

HARI SIALKU

Happy reading...😍😍 Ketika aku bangun tidur pada hari senin, aku sangat terkejut karena melihat jam telah menunjukkan pukul 6.30. aku ...